<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291</id><updated>2012-02-17T10:19:34.981+07:00</updated><category term='Penyakit lain'/><category term='minipost'/><category term='kanker paru'/><title type='text'>Kanker Paru</title><subtitle type='html'>Kisah tentang kanker di paruku</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-2759225989920276341</id><published>2009-06-14T07:09:00.008+07:00</published><updated>2009-12-28T17:30:51.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='minipost'/><title type='text'>Penanganan Kanker stadium IV - Pengobatan atau perawatan ?</title><content type='html'>Agak kecut aku menerima kunjungan 2 orang dokter sekaligus dari anggota team dokter yang merawatku, untuk membicarakan rencana pengobatanku. Dari hasil browsing tentang kanker paru, sedikit banyak aku tahu bahwa untuk kanker pada stadium IV bukan lagi pengobatan, tetapi cenderung ke perawatan. Pemahamanku yang awam menangkap perbedaan yang jelas antara pengobatan dan perawatan. Walaupun dalam kenyataannya keduanya sama-sama memberi obat, tetapi jika pada pengobatan ditujukan untuk kesembuhan, sedangkan perawatan hanya mengatasi gangguan yang timbul. Dalam penjelasan yang singkat, dokter tidak menyangkal pendapatku, tetapi juga tidak membenarkannya. Menurut pengalamannya, walaupun alur penanganan kesehatan sudah baku dan jelas, dunia medis tidak selalu hitam putih sebagaimana text book. Banyak hal bisa terjadi diluar perkiraan semula. Oleh karenanya pengalaman adalah pelajaran sepanjang waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-2759225989920276341?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/2759225989920276341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/penanganan-kanker-stadium-iv-pengobatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/2759225989920276341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/2759225989920276341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/penanganan-kanker-stadium-iv-pengobatan.html' title='Penanganan Kanker stadium IV - Pengobatan atau perawatan ?'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6318273400831291479</id><published>2009-06-13T22:07:00.009+07:00</published><updated>2009-06-14T09:08:46.387+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Penetapan stadium</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SjRbdTamKyI/AAAAAAAAAb0/eghZUosYT0o/s1600-h/14062009461.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SjRbdTamKyI/AAAAAAAAAb0/eghZUosYT0o/s320/14062009461.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346999216581782306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bone scan yang kujalani pada 14 Agustus 2007 melengkapi semua pemeriksaan kanker paru yang kuidap. Dengan ditemukannya "kegiatan" pada tulang rusukku, dapat disimpulkan bahwa penyebaran kanker paru sudah merambah ke tulang rusuk nomor 8 dan 9. Ditemukannya penyebaran pada tulang rusuk ini juga mendaulat stadium kanker sudah pada tingkat IV, dimana kanker sudah menyebar ke organ lain selain paru-paru. Namun demikian dokter yang mengunjungiku di ruang rawat masih ingin konsultasi dengan sejawatnya di kedokteran nuklir yang memeriksaku, apakah kegiatan pada tulang rusuk ini benar-benar metastase (penyebaran) atau hanya gambaran yang salah akibat dari adanya  tumor ganas yang ada di paru-paruku. Entah bagaimana jalannya diskusi, yang kutahu kemudian aku mendapat kabar bahwa team dokter menetapkan stadiumku pada tingkat IV, karena tulang rusuk ke 8 dan 9 letaknya cukup jauh dari tumor primer yang berada di puncak paru kiri. Dokter menyimpulkan bahwa bayangan kegiatan di tulang rusuk yang tertangkap saat bone scan bukan karena interference tumor primer. Statusku kini menjadi T1N0M1 &lt;a href="http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/melacak-jejak-kanker.html"&gt;(baca juga posting dibawah judul Melacak jejak kanker)&lt;/a&gt;. Pupuslah sudah harapanku untuk operasi pengangkatan tumor ganas di paruku, karena kanker pada stadium IV tidak akan dilakukan tindakan operasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6318273400831291479?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6318273400831291479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/penetapan-stadium.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6318273400831291479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6318273400831291479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/penetapan-stadium.html' title='Penetapan stadium'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SjRbdTamKyI/AAAAAAAAAb0/eghZUosYT0o/s72-c/14062009461.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-8988219295047515078</id><published>2009-06-08T17:39:00.015+07:00</published><updated>2009-06-27T07:24:15.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyakit lain'/><title type='text'>An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)</title><content type='html'>Sedikit menyimpang dari kanker, tulisan dr Kathryn yang sekarang sedang study spesialisasi di Jepang ku kutip dari blognya http://charmedkath.blogspot.com/, setelah keponakanku tersayang Falaq Raynanda meninggal dalam waktu singkat karena DBD pada usianya yang ke 14 tahun. Mudah-mudahan menjadi pelajaran yang baik untuk kita semua. Terima kasih dok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam berdarah dengue atau sering disingkat DBD bukan penyakit baru, terlebih di negara kita tercinta, DBD sudah menjadi penyakit yang sangat popular. Kita juga bahkan mengenal ada musim demam berdarah dan saat itu biasanya RS penuh dengan pasien demam berdarah sampai sampai kamar perawatan pun tidak cukup menampung jumlah pasien yang masuk. Meski terasa sudah begitu akrab mengenal penyakit ini, ternyata kita (termasuk dokter sekalipun) masih sering kecolongan dalam mengatasinya. Masih banyak keluarga yang harus berduka cita karena kehilangan sanak saudaranya akibat demam berdarah. “Know your enemy and know yourself and you can fight a thousand battles without disaster” (Sun Tzu – The Art of War). Dalam artikel kali ini yuk kita lihat, kita kenal lagi musuh kita si DBD ini. Semoga kita akan bisa memenangkan pertempuran melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kita harus mengenal baik dulu demam berdarah. Demam berdarah merupakan penyakit yang banyak dan umum terdapat di negara tropis, seperti Brazil, Pakistan, India, Thailand, Vietnam, Malaysia dsb, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue, yang ditularkan ke manusia melalui nyamuk Aedes aegypty atau Aedes albopictus. Demam berdarah banyak terdapat di negara tropis karena nyamuk perantaranya tersebut membutuhkan iklim yang hangat untuk berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virus Dengue sendiri terdiri dari 4 strain, DEN1, DEN2, DEN3 dan DEN4, yang meski mirip tapi berbeda satu sama lain. Seseorang yang sudah terkena satu jenis strain, bisa terkena demam berdarah lagi dari strain yang lainnya dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Kenapa? karena sifat strain virus Dengue ini yang ‘sama tapi beda’. Jadi, jika terkena strain virus DEN1 misalnya, biasanya pasien akan membaik dan tubuh akan membentuk antibody yang mengenali DEN1 tersebut. Lalu, terkena lagi dari strain yang lain, DEN2 misalnya, nah sistem kekebalan tubuh bisa salah mengenali dan mengira kalau yang menyerang ini virus DEN1. Akibatnya, meski antibody tubuh berkumpul menghadang si virus, mereka gagal men-stop infeksi dari DEN2 tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan nama ‘Antibody-Dependent Enhancement (ADE)’. Disini si virus Dengue yang tidak mati tersebut malah memanfaatkan antibody tubuh kita untuk ber-replikasi memperbanyak dirinya sendiri dan akibatnya infeksi kedua ini bisa lebih parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski semua strain virus Dengue berpotensi fatal, terutama jika sebelumnya sudah pernah terkena serangan virus dari strain yang berbeda, ada kecenderungan virus DEN2 dan DEN3 untuk lebih berpotensi fatal dibandingkan virus DEN1 dan DEN4. Kemungkinan karena produksi virus DEN2 dan DEN3 lebih cepat dan lebih banyak sehingga serangan pun lebih berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lessons learned: Seseorang bisa terkena demam berdarah lebih dari satu kali sepanjang hidupnya. Harus lebih waspada dan berhati hati dalam menangani kasus demam berdarah yang sudah berulang karena lebih beresiko ketimbang serangan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia melainkan melalui nyamuk sebagai perantaranya. Jadi setelah mengenal virus Dengue, sekarang kita coba mengenal nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus sebagai vektor perantara penularan virus Dengue ini ke manusia. Kedua jenis nyamuk ini memiliki ciri khas: warna belang putih di kakinya (lihat foto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SizsQBzYX0I/AAAAAAAAAbc/teYoIvBT1Pc/s1600-h/Aedes_Albopictus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SizsQBzYX0I/AAAAAAAAAbc/teYoIvBT1Pc/s320/Aedes_Albopictus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344906617887940418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Aedes albopictus)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SizsAH0aGRI/AAAAAAAAAbU/HFCHAVD4Dno/s1600-h/Aedes_aegypti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 121px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SizsAH0aGRI/AAAAAAAAAbU/HFCHAVD4Dno/s320/Aedes_aegypti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344906344624953618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Aedes aegypty)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya yang menggigit manusia adalah nyamuk betina, karena membutuhkan darah untuk perkembangan telur telurnya. Karena daya terbang mereka yang rendah, hanya sekitar 100-200 meter, tentu saja mereka akan tinggal tidak jauh dari mangsanya, di daerah pemukiman penduduk. Mereka akan meletakkan telur telurnya di air yang tergenang (tidak mengalir) dan biasanya air yang cukup bersih, yang justru juga banyak di rumah rumah penduduk. Selain itu umumnya mereka juga aktif mencari makan (menggigit) sesuai jam kerja manusia, pagi sampai sore hari. Aedes aegypty umumnya menggigit pada pagi hari dan menjelang sore saat matahari terbenam, sedangkan Aedes albopictus biasanya pada siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, ada kebiasaan punya ‘jam tidur siang atau tidur sore’, anak anak setelah pulang sekolah juga biasanya tidur siang/sore dulu sebelum beraktivitas lagi sore/malam harinya. Ini sasaran empuk dari si nyamuk nyamuk yang sedang giat giatnya mencari makan itu. Apalagi kalau pas siang udara terasa panas, tidur dengan jendela dibuka dan membiarkan angin berhembus masuk. Celakanya, tidak hanya angin, nyamuk pun berpesta pora jadi tamu tak diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lessons learned: Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perhatikan dan kenali keadaan rumah dimana ada kemungkinan air bersih tergenang (air di vas bunga, air tempayan, air bak mandi, dsb). Jalankan program 3M (Mengubur, Menutup, Menguras) untuk memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk. Jika ada tempat yang tidak bisa dilakukan program 3M tersebut, bisa saja ditaruh ikan sebagai predator dari larva nyamuk atau tambahkan bubuk insektisida Abate sesuai petunjuk penggunaan. Jangan lupa, berusaha tidak menjadi santapan nyamuk. Pakai kelambu jika tidur, atau lotion anti nyamuk. Tidak kalah penting, usahakan selalu menjaga kesehatan tubuh agar kuat melawan si virus Dengue ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenali virus dan nyamuk sebagai perantara penularan demam berdarah, sekarang kita coba kenali gejala demam berdarah dan apa yang penting harus diperhatikan dalam penanganan demam berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nyamuk yang membawa virus Dengue menggigit manusia, virus akan masuk ke dalam tubuh manusia dan berinkubasi di dalamnya. Gejala demam berdarah biasanya baru tampak setelah 4-7 hari kemudian. Terutama pada saat musim demam berdarah, jika ada gejala klinis seperti di bawah ini, sebaiknya diwaspadai kemungkinan demam berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- demam mendadak. Pada demam berdarah, dikenal pola demam pelana kuda (demam beberapa hari naik lalu turun, dan naik kembali sehingga menyerupai bentuk pelana kuda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- sakit kepala, badan dan sendi terasa pegal linu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- perut tidak enak, ada rasa mual dan muntah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- perdarahan (paling dini, jika terdapat bercak perdarahan di kulit). Pada pasien yang dicurigai demam berdarah, bisa dilakukan tes Rumple-Leed (atau dikenal juga dengan sebutan tes Tourniquet) untuk melihat adanya manifestasi perdarahan kapiler kulit. Perdarahan yang berlanjut, gusi berdarah, mimisan, perdarahan usus, dsb bisa membawa pasien ke kondisi kritis yang dikenal dengan istilah ‘Dengue Shock Syndrome (DSS)’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pemeriksaan laboratorium yang menunjang dugaan demam berdarah: turunnya trombosit (sel darah yang berperan untuk pembekuan darah) dan naiknya hematokrit (penunjuk kekentalan darah). Ada pula tes tambahan untuk memastikan jenis strain virus yang menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi virus Dengue dalam tubuh dapat menyebabkan naiknya permeabilitas pembuluh darah yang akan menyebabkan cairan plasma tubuh merembes keluar pembuluh darah. Inilah yang menyebabkan kekentalan darah (yang ditunjukkan oleh kadar hematokrit) meningkat dan pasien akan mengalami dehidrasi. Selain itu pembuluh darah juga menjadi rapuh dan mudah rusak, sehingga mudah terjadi perdarahan. Celakanya, virus ini juga bisa memicu suatu mekanisme dalam tubuh yang dikenal sebagai ‘Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)’ dan menyebabkan faktor pembekuan darah, trombosit berkurang (trombocytopenia). Jika hal ini luput dan tidak cepat ditangani, tentu berakibat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang juga harus diwaspadai, proses memburuknya penyakit demam berdarah (berkembang ke arah dengue syok syndrome/DSS) sering justru terjadi pada hari ke- 3 sampai ke-5 sesudah demam. Saat itu kadang demam pasien juga sudah turun sehingga mengira kondisi pasien membaik, padahal sebaliknya, inilah saat yang harus diwaspadai. Keluhan seperti sakit perut, muntah, perdarahan di mana saja (kulit, mimisan, BAB tinja hitam, dsb) harus diwaspadai dan ditindaklanjuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lessons learned: Pasien demam berdarah rentan terhadap resiko dehidrasi. Penting sekali untuk memantau dan menjaga asupan cairan tubuh. Perbanyak minum, jus jambu dan POCARI sweat boleh diminum karena mengandung elektrolit yang kebetulan juga cocok dengan elektrolit cairan tubuh. Untuk menurunkan panas, boleh meminum obat anti panas Paracetamol. Tapi, JANGAN aspirin atau ibuprofen karena keduanya meningkatkan resiko perdarahan!. Aspirin mempunyai efek mencegah pembekuan darah, sementara pada kasus demam berdarah justru kebalikannya, kita ingin terjadi pembekuan darah untuk mencegah perdarahan organ tubuh. Sekali lagi berhati hatilah dalam meminum obat dan segera ke dokter jika mencurigai ada anggota keluarga yang terkena demam berdarah. Do not underestimate the illness!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita saya tentang demam berdarah dengue ini. Semoga membuat kita semakin lebih mengenal musuh kita dan lebih mudah untuk melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sehat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kathryn-Tokyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I dedicate this article to one of my friend followers who lost his 14-year-old nephew due to DHF”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References:&lt;br /&gt;- http://www.stanford.edu/group/virus/flavi/2000/dengue.htm&lt;br /&gt;- http://en.wikipedia.org/wiki/Antibody_dependent_enhancement&lt;br /&gt;- http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/dengue/slideset/set1/index.htm&lt;br /&gt;- http://www.searo.who.int/en/Section10/Section332.htm&lt;br /&gt;- Sumber ilustrasi: http://www.koalisi.org/dokumen/dokumen2171.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-8988219295047515078?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/8988219295047515078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/unsolved-problem-dengue-haemorrhagic.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/8988219295047515078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/8988219295047515078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/unsolved-problem-dengue-haemorrhagic.html' title='An Unsolved Problem: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SizsQBzYX0I/AAAAAAAAAbc/teYoIvBT1Pc/s72-c/Aedes_Albopictus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6903609041717378780</id><published>2009-06-03T14:46:00.019+07:00</published><updated>2009-06-11T18:36:46.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Bone scan - Melacak kanker pada tulang</title><content type='html'>Pelacakan kanker pada tulang menggunakan Bone Scan. Alat ini merupakan bagian dari pengembangan kedokteran nuklir. Setahuku di Jakarta hanya ada di empat Rumah Sakit, antara lain RS Pusat Pertamina, tempatku dirujuk untuk dilakukan bone scaning. Sepertinya cara kerja bone scan mirip dengan PET Scan (Positron Emission Tomography Scan), dalam hal mendeteksi metabolisme sel. Bedanya jika pada PET Scan sel-sel kanker diberi umpan glucosa bermuatan radio isotop agar melakukan kegiatan metabolisme (makan), pada bone scan radio isotop (tracer) dipakai melacak kegiatan metabolisme sel-sel tulang. Pada kejadian tertentu yang mengakibatkan kerusakan tulang, sel-sel tulang akan sibuk membelah diri untuk menggantikan sel yang rusak. Kegiatan ini membuat sel-sel tulang menyerap makanan bermuatan tracer lebih banyak dari pada sel-sel tulang yang sehat. Tracer yang memancarkan sinyal radio aktif inilah yang kemudian akan dimonitor menggunakan kamera khusus (gamma camera). Dimana ditemukan konsentrasi tracer yang tinggi (hot spot), dapat dipastikan disitu terdapat kelainan tulang. Sel kanker yang ada pada tulang juga akan menampakkan hot spot, karena sel kanker membelah diri lebih cepat dan makan lebih banyak dari pada sel normal. Agar tracer yang tertangkap kamera betul-betul berasal dari tulang, maka diperlukan waktu (3 jam) dan banyak minum untuk melarutkan tracer pada jaringan lunak. Pada jaringan lunak tracer lebih mudah larut dari pada di tulang.  Walaupun kegiatan sel-sel tulang bisa juga disebabkan oleh hal lain seperti arthritis dan berbagai infeksi,  tetapi jika sebelumnya telah ditemukan adanya sel kanker seperti kasusku, maka harus dicurigai adanya penyebaran kanker pada tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Si4H7n1zmWI/AAAAAAAAAbk/pOYW5TTnn9k/s1600-h/Bone_scanner.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 294px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Si4H7n1zmWI/AAAAAAAAAbk/pOYW5TTnn9k/s320/Bone_scanner.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345218528623696226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Alat utama bone scan terdiri dari sepasang kamera gamma yang terpasang pada dua lengan besar yang dapat digerakkan menelusuri seluruh tubuh. Sedangkan peralatan lainnya berupa seperangkat komputer yang akan merubah sinyal dari kamera gamma menjadi gambar. Sebelum scan dilakukan, terlebih dahulu disuntikkan zat radio aktif melalui pembuluh darah di lengan. Agar meresap ke seluruh tulang diperlukan waktu sekitar dua setengah hingga tiga jam. Selama itu aku harus banyak minum agar zat radio aktif yang tidak diperlukan segera larut. Sesaat sebelum scan dilakukan aku harus BAK agar radio aktif yang terkumpul dalam kandung kemih tidak memberi gambaran yang salah. Proses scaning dimulai dengan membuat pola lintasan kamera gamma mengikuti lekuk tubuh, sehingga kamera melintas dengan jarak kurang lebih 5cm dari permukaan tubuh. Proses scan berlangsung kurang lebih 20 menit. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, hasilnyapun dapat dilihat bahwa ternyata ada kegiatan pada tulang rusukku yang ke 8 dan 9 (costae VIII dan IX). Dalam ambulance yang membawaku kembali ke RS tempatku dirawat, walau sempat bercanda dengan perawat yang mengantarku, aku merasa sedih bahwa ternyata kanker telah menyebar ke tulang rusukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bacaan :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cancerhelp.org.uk/help/default.asp?page=151"&gt;Cancer Research UK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.wisegeek.com/what-is-a-bone-scan.htm"&gt;Wise geek&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://brighamandwomens.staywellsolutionsonline.com/RelatedItems/92,P07663"&gt;Brigham and Women's Hospital&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6903609041717378780?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6903609041717378780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/melacak-kanker-pada-tulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6903609041717378780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6903609041717378780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/06/melacak-kanker-pada-tulang.html' title='Bone scan - Melacak kanker pada tulang'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Si4H7n1zmWI/AAAAAAAAAbk/pOYW5TTnn9k/s72-c/Bone_scanner.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-2791208077438962122</id><published>2009-05-30T07:41:00.006+07:00</published><updated>2009-06-08T18:11:13.503+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Melacak kanker di perut - CT Scan</title><content type='html'>Pada hari berikutnya melacak kanker berlanjut dengan mencari jejaknya di abdomen (rongga perut). Kali ini ada persiapan yang harus kujalani, aku harus berpuasa sejak jam 23 dan pagi harinya sejak jam 6 aku harus minum cairan putih mirip susu tiap jam sekali. Setelah gelas kelima kuminum pada jam 10 aku diantar ke radiologi untuk pemeriksaan rongga perut menggunakan CT Scan. Karena sudah beberapa kali melakukannya, aku tak canggung lagi. Yang tidak biasa (dan bikin perasaan yang sama sekali tidak nyaman) adalah sisa cairan mirip susu yang kira-kira masih satu gelas lagi dipompakan ke perut melalui ... anus !. Selanjutnya pemeriksaan berjalan seperti biasa. Lagi-lagi yang tidak biasa, (walau perawat bilang biasa terjadi) perut jadi terasa mulas sehingga selama pemeriksaan aku terbata-bata menahannya. Gejala inipun tampaknya sudah biasa terjadi, sehingga begitu selesai pemeriksaan perawat menuntunku (yang terbungkuk-bungkuk menahan mulas) ke WC. Benar-benar pengalaman baru bagiku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-2791208077438962122?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/2791208077438962122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/melacak-kanker-di-perut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/2791208077438962122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/2791208077438962122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/melacak-kanker-di-perut.html' title='Melacak kanker di perut - CT Scan'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6991204945353644820</id><published>2009-05-25T12:44:00.019+07:00</published><updated>2009-06-17T17:22:53.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Melacak kanker di otak - MRI</title><content type='html'>"&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/ShpsNNiCQlI/AAAAAAAAAbE/OunxCYsZ30E/s320/MRI.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339699282427658834" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeringkatan (staging) kanker perlu dilakukan untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diterapkan. Pada kasusku, dari lima parameter yang biasa dipakai dalam pemeringkatan kanker, sudah empat yang diketahui antara lain, jenis sel, lokasi tumor primer, ukuran dan jumlah tumor primer dan penyebaran ke kelenjar getah bening terdekat. Tinggal satu hal yang belum diketahui yakni metastasis atau penyebaran ke organ lain. Menurutku melacak sel kanker di sekujur tubuh lebih gampang dilakukan dengan PET Scan (Positron Emission Tomography Scan). Dengan cara ini sel kanker diberi umpan bermuatan radioisotop sehingga bisa dilacak menggunakan kamera khusus. Dengan sekali scan maka dimanapun sel kanker berada dapat segera terlacak. Sayangnya pemeriksaan dengan PET Scan biayanya masih sangat mahal, dan saat itu (tahun 2007) PET Scan belum ada di Indonesia. Pelacakan kanker di tubuhku dimulai dengan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melacak adanya penyebaran pada otak. Konon untuk jaringan lunak seperti otak, pemakaian MRI lebih efektif dibanding CT Scan. Berbeda dengan CT Scan yang berbasis rontgen, MRI menggunakan  magnet dan gelombang radio, yang cara kerjanya terlalu rumit untuk dapat kupahami. Alatnya mirip CT Scan, hanya lebih panjang sehingga menyerupai tabung berukuran besar dengan tempat tidur di tengahnya. Sebelum dilakukan pemeriksaan aku harus mengisi formulir yang berisi beberapa pertanyaan antara lain apakah pernah menjalani operasi pemasangan logam seperti pen penyambung tulang, alat pacu jantung, clip dsb. Aku harus mengganti pakaianku dengan jubah yang sudah disediakan, meninggalkan jam tangan, ikat pinggang, cincin dan dompetku dalam locker. Karena alat ini menggunakan magnet yang sangat kuat, maka benda-benda yang terbuat dari logam dapat tersedot ke arahnya. Setelah kupingku ditutup head-phone dan kepalaku dimasukkan ke dalam alat mirip sangkar, petugas meninggalkanku terbaring sendirian dalam tabung. Dari head phone terdengar lagu-lagu instrumentalia lembut. Sesaat setelah petugas memberi aba-aba agar aku tidak bergerak-gerak, terdengar tabung mulai mendengung, makin lama makin keras bahkan kemudian ditimpali pula dengan suara berkelontangan. Aku sempat khawatir, jangan-jangan alat ini rusak dan tiba-tiba meledak. Tetapi rupanya paramedis sudah hafal benar dengan gelagat ini. Kudengar melalui head phone dia memintaku untuk tetap tidak bergerak-gerak, dan menjelaskan bahwa suara gegap gempita yang kudengar itu normal. Kupikir pemeriksaan telah usai ketika suara-suara bising mulai mereda, tetapi ternyata belum. Seorang paramedis masuk ruangan dan menyuntikku dengan cairan untuk membuat gambar lebih kontras. Prosespun berulang. Selesai pemeriksaan MRI aku kembali ke ruang rawat, karena masih diperlukan beberapa pemeriksaan lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6991204945353644820?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6991204945353644820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/pemeringkatan-kanker-cancer-staging.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6991204945353644820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6991204945353644820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/pemeringkatan-kanker-cancer-staging.html' title='Melacak kanker di otak - MRI'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/ShpsNNiCQlI/AAAAAAAAAbE/OunxCYsZ30E/s72-c/MRI.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6111734145169511475</id><published>2009-05-21T08:51:00.019+07:00</published><updated>2009-06-11T06:47:01.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Tabiat jahat kanker</title><content type='html'>Sel normal mempunyai misi yang terprogram, bagaimana mereka harus bertingkah laku. Program tentang bagaimana sel harus bertingkah laku disebut Genes (plasma pembawa sifat). Dari sekian banyak genes ada tiga jenis penting yang memungkinkan sel normal berubah menjadi sel kanker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oncogenes&lt;/span&gt; (Genes yang memerintahkan sel untuk memperbanyak diri)&lt;br /&gt;Beberapa genes memerintahkan sel untuk membelah diri. Biasanya pada orang dewasa perintah untuk memperbanyak diri ini tidak begitu sering dilakukan. Sel hanya memperbanyak diri untuk memperbaiki kerusakan misalnya luka atau matinya beberapa sel karena serangan penyakit. Jika genes ini oleh suatu sebab menjadi tidak normal, dia akan memerintahkan sel untuk terus menerus membelah diri. Genes abnormal ini disebut Oncogenes, sebutan keren dari genes kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tumour suppressor genes&lt;/span&gt; (Genes yang memerintahkan sel untuk berhenti memperbanyak diri).&lt;br /&gt;Beberapa genes bertugas untuk menghentikan sel membelah diri. Jika salah satu dari genes ini rusak sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik, maka sel akan terus menerus membelah diri, dengan kata lain sel menjadi immortal (tidak bisa mati). Genes jenis ini yang paling terkenal disebut p53, yang biasanya akan memerintahkan sel yang mengalami kerusakan genes untuk mati (apoptosis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genes yang memperbaiki genes yang rusak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) adalah penghasil genes. Ada satu jenis genes yang bertugas memperbaiki DNA yang rusak. Jika genes jenis ini rusak, akibatnya sel yang menggandakan diri membawa pula kerusakan DNA pada sel-sel selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua genes bekerja dengan baik, bukan hal yang mudah bagi sel normal untuk berubah menjadi sel kanker. Kurang lebih ada 6 tahap yang harus dilalui bagi sel normal untuk menjadi sel kanker. Yang lebih sering terjadi sel akan menghacurkan dirinya sendiri saat terjadi kelainan pada dirinya (apoptosis). Atau dikenali oleh sistim pertahanan tubuh sebagai benda asing yang membahayakan serta dimusnahkan . Dengan kata lain sel rusak yang berbakat untuk jadi sel kanker akan mati sebelum benar-benar menjadi sel kanker. Diperlukan waktu yang lama untuk dapat merubah sel rusak menjadi sel kanker. Itulah sebabnya beberapa jenis kanker lebih banyak terjadi pada manula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya kejahatan sel kanker adalah :&lt;br /&gt;1. Membelah diri terus menerus membentuk tumor (kecuali pada leukemia) yang merusak jaringan di sekitanya. Rusaknya jaringan dimana tumor bersarang membuat kerusakan organ, sehingga tidak berfungsi dengan baik bahkan akhirnya benar-benar tidak berfungsi. Terkadang tumor yang tumbuh mendesak jaringan aliran darah atau syaraf, sehingga mengakibatkan bagian tubuh tidak berfungsi karena tidak mendapat asupan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kehilangan kemampuan untuk terikat dengan sel-sel sejenis dalam satu jaringan, sehingga mudah terlepas dan berkelana mengikuti aliran darah atau getah bening ke seluruh tubuh. Di tempat barunya sel kanker berkembang membentuk tumor baru serta menimbulkan kerusakan baru. Semakin banyak tumor baru terbentuk, semakin banyak pula organ tubuh yang akan dirusaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kehilangan kemampuan untuk menghancurkan dirinya sendiri (apoptosis)&lt;br /&gt;Tanpa kemampuan untuk menghancurkan dirinya sendiri, sel kanker dengan berbagai sifat jahatnya hidup lebih lama daripada sel normal.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cancerhelp.org.uk/help/default.asp?page=97"&gt;&lt;br /&gt;Bahan bacaan Cancer Research UK)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6111734145169511475?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6111734145169511475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/tabiat-jahat-kanker.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6111734145169511475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6111734145169511475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/tabiat-jahat-kanker.html' title='Tabiat jahat kanker'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-888160554768742635</id><published>2009-05-17T10:02:00.015+07:00</published><updated>2009-05-22T15:47:25.630+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Melacak jejak kanker</title><content type='html'>Ternyata ... naiknya statusku dari suspect kanker paru menjadi proven bukan berarti langkah pengobatan bisa segera dimulai. Proses selanjutnya adalah menentukan tingkatan atau staging, untuk bisa melangkah ke jenjang berikutnya.&lt;br /&gt;Staging adalah suatu cara dalam membuat klasifikasi tingkat serangan kanker, berdasar pada pertumbuhan kanker. Sistim staging bersifat spesifik untuk tiap jenis kanker, bahkan beberapa jenis kanker tidak dapat dibuat sistim staging. Tidak seperti sel normal yang hanya membelah diri jika diperlukan, sel kanker membelah diri terus menerus membentuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tumor&lt;/span&gt; yang tumbuh tak terkontrol sehingga dapat merusak jaringan atau organ yang ada di sekitarnya. Sel kanker juga dapat terlepas dari tumor utama (primary tumor), masuk dalam aliran darah atau jaringan getah bening dan menyebar keseluruh tubuh. Penyebaran sel kanker ke organ tubuh lain yang letaknya berjauhan dari tumor utama disebut  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;metastasis&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Parameter yang digunakan menentukan staging bisa berbeda, tergantung jenis sel kanker yang ditemukan. Misalnya jika ditemukan jenis kanker yang tidak membentuk tumor seperti pada kanker darah. Hal yang menentukan dalam staging kanker paru meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  - Lokasi tumor utama (primary tumor) dimana tumor pertama kali tumbuh&lt;br /&gt;  - Ukuran dan banyaknya tumor&lt;br /&gt;  - Penyebaran ke kelenjar getah bening terdekat&lt;br /&gt;  - Jenis sel kanker (grading)&lt;br /&gt;  - Penyebaran ke organ lain yang berjauhan (metastasis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lokasi tumor utama (primary tumor)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Perlu dipelajari terlebih dahulu, apakah jenis sel kanker yang ditemukan merupakan jelmaan (mutasi) dari sel jaringan setempat yang diambil sampelnya (biopsy), atau merupakan sel kanker yang berasal dari organ tubuh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ukuran dan banyaknya tumor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ukuran tumor primer menentukan seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan pada jaringan di sekitarnya. Ada kalanya tumor sudah berkembang sedemikian rupa sehingga ditemukan lebih dari satu tumor pada organ yang sama. Pada umumnya jika ukuran tumor kurang dari 3 cm diberi skala 1. Semakin tinggi skala yang diberikan berarti semakin besar dan atau semakin banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebaran ke kelenjar getah bening terdekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kelenjar getah bening adalah sistim pertahanan tubuh yang akan membunuh setiap unsur yang dianggap asing dan membahayakan kesehatan. Jika ternyata ada sel kanker yang berkelana dan kemudian tersangkut di kelenjar getah bening, maka kanker akan membelah diri secara membabi buta di kelenjar getah bening dan membentuk tumor di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenis sel kanker&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Sel kanker terbentuk dari sel normal yang oleh suatu sebab menjadi tak terkontrol tabiatnya. Jika sel normal membelah diri dan mati (apoptosis) dalam suatu sistim yang terprogram, maka sel kanker sudah kehilangan kontrol, sehingga membelah diri terus menerus. Sebelum menjadi sel kanker tulen, sel yang semula normal berubah bentuk dalam tahap-tahap tertentu yang dapat diidentifikasi di bawah mikroskop. Mengenali bentuk (anatomi) sel kanker biasa disebut grading, diberi skala satu hingga empat. Semakin berbeda dari bentuk sel normal, keganasan dan gradingnya semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyebaran ke organ lain yang berjauhan (metastasis)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Dalam satu jaringan, sel normal mempunyai kemampuan untuk selalu menempatkan diri saling terkait dalam suatu ikatan bersama sel-sel normal lainnya. Sel kanker telah kehilangan kemampuan ini sehingga bisa terlepas dan berkelana mengikuti peredaran darah atau cairan getah bening sambil terus menerus membelah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistim yang biasa digunakan dalam menentukan stage (stadium) dalam kanker paru (dan kebanyakan jenis kanker yang lain) adalah TNM. Sistim ini berdasar pada ukuran atau jumlah tumor utama (T) diberi ranking 0 hingga 4. Ada atau tidaknya penyebaran pada kelenjar getah bening (N) diberi ranking 0 hingga 4, dan ada atau tidaknya metastasis (M). 0 jika tidak ada penyebaran dan 1 jika terdapat penyebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi yang sejauh ini telah kujalani baru menunjukkan bahwa pada paru kiriku diketemukan sel kanker jenis Adenocarsinoma. Masih diperlukan perjalanan panjang lagi untuk memeriksa apakah ada penyebaran ke kelenjar getah bening terdekat dan apakah telah terjadi penyebaran ke organ lain yang letaknya berjauhan dari tumor primer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-888160554768742635?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/888160554768742635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/melacak-jejak-kanker.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/888160554768742635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/888160554768742635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/melacak-jejak-kanker.html' title='Melacak jejak kanker'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-7072424445444596093</id><published>2009-05-15T14:29:00.004+07:00</published><updated>2009-05-15T21:03:33.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Kanker paru - Proven</title><content type='html'>Naiknya status seseorang biasanya diiringi dengan perasaan gembira, bahkan tak sedikit yang merayakannya dengan gegap gempita. Naiknya status kanak-kanak menjadi remaja di usia 17 tahun misalnya, atau naiknya status lajang ke su-is, ratusan juta rupiah bisa dihabiskan untuk merayakannya.&lt;br /&gt;Naiknya statusku dari suspect (tersangka) lung cancer menjadi proved, sangat jauh dari hingar bingar kegembiraan. Citology report yang dibacakan dokter malam itu berbunyi : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makroskopik :&lt;/span&gt; Sepuluh slide sediaan apus&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikroskopik :&lt;/span&gt; Sediaan apus TTB menunjukkan kelompokan sel tumor dengan inti pleomorfik, hiperkromatik dan beberapa sel dengan sitoplasma bervakuola&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan :&lt;/span&gt; Positif sediaan apus TTB mengandung adenokarsinoma&lt;br /&gt;Tertanggal 31 Juli 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya sudah lama kupersiapkan hatiku untuk menerima kenyataan bahwa aku mengidap kanker paru, dari beberapa faktor resiko yang kupunyai. Antara lain, umur diatas 50 tahun, secara genetis, Ibuku juga mengidap kanker paru, kebiasaanku merokok sejak muda, ditambah fakta dari hasil CT Scan yang mendeteksi adanya mass malignant di paru kiri bagian atas. Tetapi mendengar citology report yang dibacakan dokter, sedih juga rasanya. Banyak situs yang menyajikan statistik menggambarkan betapa kecilnya angka penderita kanker paru yang dapat bertahan hidup hingga lima tahun sejak diagnosa ditegakkan. Angka itu berkisar di 15 %. Ketika kusinggung tentang kesempatanku untuk bisa bertahan dalam lima tahun kedepan, kupikir dokter hanya membesarkan hati dengan mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu kapan dan dengan cara apa ajal akan datang. Aku baru terkejut setelah dokter melanjutkannya dengan memberi contoh, bahwa beliau baru saja kehilangan suami yang tampak sehat dan atletis, tanpa ada gejala penyakit apapun sebelumnya, tiba-tiba meninggal saat berganti pakaian sehabis bermain tennis. Beliau melanjutkan, bahwa statistik dibuat berdasar sekian banyak pasien, padahal tidak ada pasien yang kasusnya benar-benar sama, termasuk respon tubuh kita terhadap pengobatan yang akan dilakukan. Kita hanya dapat memperhitungkan dan menduga apa yang kelak akan terjadi, . Akhirnya atas pilihanku, aku dibuatkan surat rujukan ke sebuah rumah sakit di Jatinegara, untuk pengobatan lanjutan. Ada sedikit rasa lega juga, karena kini penyakitku sudah punya nama :&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Adenocarsinoma&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-7072424445444596093?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/7072424445444596093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/kanker-paru-proven.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/7072424445444596093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/7072424445444596093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/kanker-paru-proven.html' title='Kanker paru - Proven'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-4413147369449428852</id><published>2009-05-05T16:23:00.021+07:00</published><updated>2009-05-21T18:51:34.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Pneumothorax pasca Transthoracic lung biopsy</title><content type='html'>Trans thoracic lung biopsy merupakan methode biopsy yang cukup handal karena dapat menjangkau seluruh area paru. Meskipun demikian, karena menggunakan jarum sebagai alat untuk mengambil sampel jaringan, maka ada beberapa konsekwensi yang dapat terjadi, antara lain infeksi, pendarahan dan pneumothorax.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi yang disebabkan oleh TTLB hampir tidak pernah terjadi, karena dapat dengan mudah diantisipasi dengan sterilisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh luka yang diakibatkan jarum biopsy, pendarahan lebih sering terjadi, mulai dari pendarahan ringan hingga berat. Pendarahan ringan biasanya akan terhenti dengan sendirinya setelah beberapa saat. Pendarahan yang terjadi terus-menerus biasanya juga bisa diantisipasi dengan memeriksa beberapa indikasi awal seperti lamanya pembekuan darah, tingkat tekanan darah dan indikasi lain. Jika tetap terjadi, akan dilakukan tindakan lebih lanjut, tergantung penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pneumothorax terjadi jika oleh suatu sebab, udara masuk dan terjebak di dalam lapisan pleura sehingga membuat paru-paru terdesak dan mengakibatkan kesulitan bernafas. Pleura adalah jaringan yang membungkus paru-paru, terdiri atas dua lapis jaringan, Visceral pleura yang menempel pada paru-paru dan Parietal pleura yang menempel pada dinding rongga dada. Diantara kedua jaringan pleura ini terdapat cairan yang berfungsi sebagai pelumas agar paru-paru mudah bergerak. Oleh suatu sebab, seperti penyakit paru menahun, tuberkulosis dll, dinding paru bisa berlubang dari arah dalam, yang sekaligus merusak visceral pleura, (lapisan pleura yang menempel pada paru-paru) sehingga udara masuk dan terjebak diantara dua lapis pleura. Kondisi ini disebut close pneumothorax.&lt;br /&gt;Open pneumothorax jika terjadi luka tusuk atau luka karena benturan pada dada yang mengakibatkan robeknya lapisan parietal pleura (lapisan pleura yang menempel pada dinding rongga dada). Pada pneumothorax ringan yang diakibatkan oleh tindakan TTLB, biasanya udara yang terjebak diantara dua lapisan pleura akan terserap kembali oleh tubuh dalam tiga hingga lima hari. Tetapi pada pneumothorax berat, dimana paru-paru terdesak hingga menyebabkan sesak nafas akut, maka diperlukan tindakan lebih lanjut, antara lain dengan memasang pipa kecil untuk mengalirkan udara keluar.&lt;br /&gt;Syukurlah saat dilakukan TTLB padaku tidak menimbulkan dampak sama sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-4413147369449428852?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/4413147369449428852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/pneumothorax.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4413147369449428852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4413147369449428852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/pneumothorax.html' title='Pneumothorax pasca Transthoracic lung biopsy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-4946500406267997335</id><published>2009-05-01T09:35:00.021+07:00</published><updated>2009-05-10T14:56:49.642+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Trans Thoracic Lung Biopsy Proses</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SgE1rkN55-I/AAAAAAAAAZY/jjszzc402cY/s1600-h/TTB1.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 307px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SgE1rkN55-I/AAAAAAAAAZY/jjszzc402cY/s320/TTB1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332602456356022242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Trans Thoracic Lung Biopsy adalah proses pengambilan sampel jaringan paru (lung biopsy) dengan menggunakan jarum yang ditancapkan di dada. Oleh karena menggunakan jarum sebagai alat maka juga disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fine needle aspiratio&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;n&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;Sebagai langkah awal dalam pelaksanaan TTLB adalah dengan menentukan lokasi dimana jarum akan ditancapkan, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti jarak terdekat dengan jaringan yang akan diambil, lintasan pembuluh darah dan susunan tulang. Untuk keperluan ini diperlukan panduan Computed Tomography Scan (CT Scan), suatu alat berbasis rontgent yang dapat menampilkan gambar potongan melintang dari tubuh kita. Tiga batang logam berukuran panjang 5 cm dengan diameter 5 mm diletakkan membujur di dada, berjarak kurang lebih 2 cm antara satu dan lainnya. Pada monitor CT Scan ketiga batang logam ini tampak seperti bulatan kecil berwarna putih, terletak tepat diatas jaringan yang dicurigai sebagai jaringan kanker. Dari ketiga batang logam, masing-masing ditarik garis lintasan ke jaringan kanker dibawahnya. Lintasan yang paling pendek, lurus dan tidak terhalang baik oleh tulang maupun pembuluh darah besar dipilih. Setelah salah satu batang logam dipilih sebagai patokan, masih diperlukan beberapa kali penyesuaian lagi hingga ditemukan tempat yang benar-benar ideal untuk menancapkan jarum biopsy. Jarak dari jaringan kanker ke permukaan dada yang telah ditandai diukur untuk menentukan ukuran, jenis jarum yang akan dipakai dan seberapa dalam jarum harus ditancapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfrA55bcycI/AAAAAAAAAYw/QmZhxcRosMo/s1600-h/TTB2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 319px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfrA55bcycI/AAAAAAAAAYw/QmZhxcRosMo/s320/TTB2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330785209847433666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lokasi penancapan jarum yang ideal ditetapkan, diberi tanda dan sekitar lokasi penancapan diolesi antiseptic untuk menghindari infeksi. Suntikan bius lokal diberikan dibawah kulit untuk menghilangkan rasa sakit saat jarum ditancapkan. Paru-paru tidak mempunyai syaraf perasa, hingga tidak perlu dibius. Syaraf perasa hanya ada pada lapisan pleura, lapisan yang membungkus paru-paru. Jarum biopsy ditancapkan, arahnya dimonitor dengan bantuan CT scan. Jika arahnya sudah benar, maka jarum biopsy ditancapkan lebih dalam hingga mencapai jaringan kanker. Pada gambar dibawah, tampak jarum telah tertancap di dada dengan kedalaman beberapa cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sfre9QjqtbI/AAAAAAAAAY4/KNKOr4JAFNs/s1600-h/TTB3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 319px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sfre9QjqtbI/AAAAAAAAAY4/KNKOr4JAFNs/s320/TTB3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330818252944356786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengukuran kedalaman jaringan kanker ke permukaan dengan bantuan CT Scan, dapat diperkirakan seberapa dalam jarum biopsy harus dimasukkan. Pada tahap ini kembali dilakukan Scan untuk memeriksa apakah arah jarum sudah benar. Pada gambar di bawah tampak jarum sudah masuk semakin dalam, tetapi tertutup oleh tulang. Untuk memeriksanya, dari layar monitor CT Scan dapat dilihat beberapa slice ke arah atas atau bawah dada, untuk memastikan arah jarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfrfgjOUseI/AAAAAAAAAZA/cSw_FnL_LHo/s1600-h/TTB9.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 317px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfrfgjOUseI/AAAAAAAAAZA/cSw_FnL_LHo/s320/TTB9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330818859250528738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ujung jarum telah mencapai jaringan kanker, diambil sampel untuk dipelajari di laboratorium Pathology anatomy. Pada gambar di bawah jarum tampak terputus. Ini bisa terjadi karena CT Scan memberi gambar potongan melintang yang tegak lurus sehingga jika posisi jarum sedikit miring, maka ada bagian jarum yang tidak tertangkap oleh CT Scan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfrgGPXqBBI/AAAAAAAAAZI/qJyHBbro3ZQ/s1600-h/TTB11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 316px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfrgGPXqBBI/AAAAAAAAAZI/qJyHBbro3ZQ/s320/TTB11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330819506755994642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasusku, dimana ukuran jaringan kanker sudah mencapai 3cm, proses biopsy paling sulit adalah membidik jaringan kanker dengan tepat, sehingga dokter paru harus beberapa kali bolak balik dari ruang CT Scan ke ruang kontrol, dimana terdapat berbagai alat pemantau. Karena CT Scan berbasis Rontgent yang mengeluarkan sinar radiasi, maka saat dilakukan CT Scan petugas medis harus berlindung di ruang kontrol yang di desain dapat menahan sinar radio aktif. Walaupun paparan radio aktif sudah diminimalisir dalam batas aman, tetapi jika terpapar terus menerus dalam waktu lama bisa berakibat buruk pada manusia, misalnya seperti petugas medis yang mengoperasikan alat ini. Kesulitan membidik jaringan kanker ini semakin besar jika jaringan kanker ada pada stadium dini dan berukuran sangat kecil (kurang dari 1 cm). Diperlukan pengalaman, keahlian dan kerja sama dari seluruh team medis untuk keberhasilan biopsy melalui dada atau istilah kedokterannya Trans Thoracic Lung Biopsy&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-4946500406267997335?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/4946500406267997335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/trans-thoracic-lung-biopsy-proses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4946500406267997335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4946500406267997335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/05/trans-thoracic-lung-biopsy-proses.html' title='Trans Thoracic Lung Biopsy Proses'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SgE1rkN55-I/AAAAAAAAAZY/jjszzc402cY/s72-c/TTB1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6388629857938402336</id><published>2009-04-24T17:54:00.035+07:00</published><updated>2009-05-15T16:17:04.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Trans Thoracal Lung Biopsy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sfa9s1auPUI/AAAAAAAAAYQ/E076i7Jk8d4/s1600-h/TTB3.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 315px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sfa9s1auPUI/AAAAAAAAAYQ/E076i7Jk8d4/s320/TTB3.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329655786990615874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Juli 2007.&lt;/span&gt; Setelah semalam menginap di Rumah sakit, pagi itu gelisah aku menunggu dokter yang akan melakukan TTLB. Sangat berbeda dengan prosedur TBLB, dimana sebelumnya ada obat yang harus kuminum, puasa 8 jam sebelum tindakan, tetapi pada TTB ini sama sekali tidak ada persiapan khusus yang harus kujalani. Jam 7 lebih sedikit seorang suster datang kepadaku dan mengajakku ke ruang CT Scan. Aku sudah beberapa kali masuk ruangan ini, sehingga sudah sangat hafal dengan segala seluk beluknya, dan sama sekali tidak ada kesan menakutkan seperti ketika aku masuk ruang operasi pada proses TBLB dulu &lt;a href="http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html"&gt;(baca Bronchoscopy &amp;amp; Fluoroscopy)&lt;/a&gt;. Jika pada proses TBLB dulu ruangan penuh dengan berbagai peralatan pendukung, satu-satunya alat yang kujumpai dalam ruangan CT Scan hanyalah sebuah benda seperti donat besar dengan tempat tidur terletak di tengah-tengahnya. (Sempat terpikir olehku, kalau donatnya segede itu, mestinya buat orang yang bermulut besar.) Keseluruhan unit alat ini dipasang secara diagonal dalam ruangan. Setelah berganti pakaian semacam jubah, kudapati dokter paru sedang berbincang dengan dokter radiologi diruang kontrol yang terletak disebelah ruang CT Scan. Sekilas kudengar mereka sedang memetakan letak berbagai pembuluh darah yang ada dalam paru, berdasar hasil CT Scan terdahulu. Kurasa pemetaan pembuluh darah ini agar tidak ada pembuluh darah besar yang robek tertembus jarum yang digunakan untuk menjangkau jaringan kanker paruku. Sadar aku ikut melongok kedalam ruang kontrol, beberapa paramedis mengajakku masuk ke ruang CT Scan untuk mempersiapkanku. Tak lama kemudian dokter masuk diiringi beberapa paramedis yang mendorong beberapa peralatan di baki beroda. Jubah bagian atasku dibuka kemudian ditutup selembar kain hijau yang berlubang ditengahnya. Untuk menentukan lokasi penancapan jarum, seorang paramedis melekatkan tiga batang logam sepanjang 5 cm dengan diameter kurang lebih 5mm berjajar dalam jarak 2 cm antara satu dan lainnya. Tempat tidurku didorong ketengah lubang si "donat besar" untuk di scan  (pada CT Scan ketiga batang logam tampak seperti tiga bulatan kecil berwarma putih karena CT Scan menampilkan potongan melintang). Dari ruang kontrol dilihat batang mana yang tepat berada diatas jaringan kanker dan menunjukkan lintasan paling lurus disela-sela tulang rusuk ke jaringan kanker paruku. Setelah beberapa kali disesuaikan, tempat yang paling tepat diberi tanda. Dadaku diolesi cairan antiseptic  yang menurutku seperti betadine yang biasa tersedia di perlengkapan P3K. Tidak ada dokter anesthesia kali ini, karena hanya akan dilakukan pembiusan lokal. Walau tak dapat melihat dengan jelas karena kain hijau menghalangi pandanganku, aku merasa jarum mulai ditancapkan di dadaku. Sepertinya jarum yang berukuran cukup besar dan panjang. Dengan jarum tertancap di dadaku, kembali dilakukan Scaning. Sejenak dokter pergi ke ruang kontrol untuk memastikan jarum yang sudah tertancap benar arahnya. Setelah yakin arahnya benar, jarum ditancapkan semakin dalam. Walau dokter mengatakan bahwa di paru-paru tidak ada syaraf perasa, tetapi ada sedikit rasa ngilu tajam yang menyengat ketika jarum menembus paru. Kembali dilakukan Scan, sementara dokter memeriksa apakah ujung jarum sudah mencapai jaringan kanker paru. Jarum kedua dimasukkan kedalam jarum besar yang telah tertancap didadaku, beberapa cc sampel disedot dan segera dibawa ke laboratorium Pathology Anatomy yang terletak di seberang ruang CT Scan. Jarum dicabut, luka yang tertinggal ditutup kassa tebal dan prosespun berakhir. Hasil pemeriksaan Pathology Anatomi akan selesai dalam waktu 1 minggu mendatang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6388629857938402336?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6388629857938402336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/trans-thoracal-lung-biopsy_24.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6388629857938402336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6388629857938402336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/trans-thoracal-lung-biopsy_24.html' title='Trans Thoracal Lung Biopsy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sfa9s1auPUI/AAAAAAAAAYQ/E076i7Jk8d4/s72-c/TTB3.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-486565665647421351</id><published>2009-04-24T15:39:00.013+07:00</published><updated>2009-05-04T16:37:42.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Pleural Mesothelioma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfF-WsplJpI/AAAAAAAAAWk/0c9nvYFJcy8/s1600-h/lung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 199px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfF-WsplJpI/AAAAAAAAAWk/0c9nvYFJcy8/s200/lung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328178762563790482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang jenis kanker paru, ada satu jenis kanker yang sebetulnya tidak termasuk dalam golongan kanker paru, tetapi karena letaknya yang sangat dekat dengan paru maka biasanya dibahas dalam kaitannya dengan kanker paru. Namanya Pleural Mesothelioma, kanker yang tumbuh dari sel-sel pleura, lapisan tipis yang membungkus paru-paru.  Mesothelioma berasal dari kata mesothelium, jaringan berupa lapisan tipis yang membungkus sebagian besar organ tubuh bagian dalam. Terdiri dari dua lapis, lapis pertama menempel pada organ yang dilindungi, sedangkan lapis kedua membentuk kantung diluar lapis pertama. Mesothelium memproduksi cairan yang mengisi ruang diantara kedua lapisan sebagai pelumas, untuk memudahkan gerakan organ tubuh yang dilapisinya seperti gerak jantung memompa darah, mengembang dan mengkerutnya paru-paru dalam mengambil udara dan mengeluarkannya kembali. Berdasar tempatnya berada, Mesothelium punya beberapa nama. Peritoneum adalah jaringan mesothelial yang membungkus sebagian besar organ di dalam rongga perut. Pleura adalah jaringan Mesothelial yang memisahkan jaringan paru-paru dengan dinding rongga dada. Lapisan Pleura yang menempel pada paru disebut Visceral pleura, sedangkan lapisan diluarnya disebut Parietal pleura.  Pericardium membungkus dan melindungi jantung. Jaringan mesothelial yang membungkus alat reproduksi bagian dalam pria disebut Tunica vaginalis testis, sedangkan pada wanita disebut Tunica serosa uteri.&lt;br /&gt;Sel-sel mesothelium yang mengalami mutasi kemudian membelah diri tak terkontrol hingga merusak jaringan di sekitarnya disebut Mesothelioma atau kanker Mesothelium. Sebagian besar kasus mesothelioma berawal dari Pleura dan Peritoneum. Mesothelioma yang berkembang di Pleura disebut Pleural Mesithelioma. Karena Pleural Mesothelioma merupakan sel kanker yang berasal dari sel-sel Mesothelium, maka tidak digolongkan sebagai jenis sel kanker paru. Tetapi karena letaknya yang sangat bedekatan dengan paru-paru, maka Pleural Mesothelioma juga biasa dibahas dalam hubungannya dengan kanker paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cancer.gov/cancertopics/factsheet/Sites-Types/mesothelioma"&gt;Dipetik dari www.cancer.gov&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-486565665647421351?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/486565665647421351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/mesothelioma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/486565665647421351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/486565665647421351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/mesothelioma.html' title='Pleural Mesothelioma'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfF-WsplJpI/AAAAAAAAAWk/0c9nvYFJcy8/s72-c/lung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-8313190802678325182</id><published>2009-04-17T12:32:00.054+07:00</published><updated>2009-06-22T07:44:23.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Mengenal jenis kanker paru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfGS8Cyo3bI/AAAAAAAAAXk/E3L13jYf2IE/s1600-h/TTB6a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 187px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfGS8Cyo3bI/AAAAAAAAAXk/E3L13jYf2IE/s400/TTB6a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328201394395078066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Statusku pada bulan Juni 2007 sebagai suspect lung cancer yang belum terbukti tidak dapat di follow up karena belum jelas jenisnya. Mengenali jenis kanker paru sangat penting, sehubungan dengan upaya pengobatan yang akan dilakukan. Dari tempatnya tumbuh, kanker paru terbagi dalam dua macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kanker primer&lt;/span&gt; jika kanker tumbuh dari sel yang ada dalam paru.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kanker sekunder&lt;/span&gt;, jika kanker yang tumbuh di paru merupakan penyebaran dari sel kanker yang berasal dari organ tubuh lain seperti payudara atau usus besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui asal kanker merupakan hal penting karena jika ternyata kanker yang berkembang dalam paru merupakan penyebaran dari tempat lain misalnya dari usus besar, maka cara pengobatannyapun sebagaimana mengobati kanker usus besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kanker Primer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari bentuk anatomisnya, kanker primer yang tumbuh dari sel yang ada dalam paru terbagi dalam dua macam&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Sel kanker kecil SCLC (Small Cell Lung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Cancer)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Sel kanker bukan sel kecil NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Sel kanker kecil SCLC (Small Cell Lung Cancer).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Meskipun sel kanker kecil menurut statistik hanya terjadi pada 20% dari seluruh penderita kanker paru, tetapi jenis ini termasuk yang paling sulit ditangani karena sifatnya yang sangat mudah menyebar ke organ lain. Dari bentuknya yang menyerupai gandum, sel kanker ini dijuluki sel gandum (Oat cell cancer).  Dinamakan sel kecil karena bentuknya yang demikian kecil sehingga terlihat seperti hanya terdiri dari nucleus (inti sel). Kanker paru dari jenis ini biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok. Sangat jarang dijumpai seseorang yang tidak merokok menderita kanker jenis ini. Untuk pengobatannya biasanya dokter menyarankan chemotherapy karena sifatnya yang mudah menyebar (metastasis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Sel kanker bukan sel kecil NSCLC (Non Small Cell Lung Cancer).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sel kanker jenis ini terdiri dari tiga macam, yang dijadikan satu kelompok karena mempunyai karakter yang hampir sama, dan dalam merespon obat-obatan berbeda dengan jenis sel kanker  kecil (Small Cell Lung Cancer). Ada kalanya sangat sulit bahkan tidak mungkin membedakan ketiga jenis sel kanker ini jika sel belum berkembang sempurna menjadi sel kanker. Sebelum menjadi sel kanker yang ganas, sel yang semula adalah sel normal, mengalami proses sangat rumit, yang biasa disebut mutasi. Ketiga jenis sel kanker ini adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Sel kanker Squamous (Squamous Cell Carcinoma).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jenis kanker ini paling sering dijumpai, biasanya ditemukan disekitar pertengahan paru di salah satu cabang bronchus baik kiri maupun kanan. Kanker jenis ini terbentuk dari sel-sel yang ada disepanjang saluran nafas, dan biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Adenocarcinoma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adenocarcinoma juga berkembang dari  sel-sel yang ada disepanjang saluran nafas, tetapi khususnya terbentuk dari sel-sel yang memproduksi dahak (lapisan lendir pada dinding saluran nafas). Biasanya ditemukan di jaringan paling luar paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Sel Kanker Besar (Large Cell Carcinoma).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Disebut demikian karena bentuknya yang memang kelihatan besar agak bulat. Kanker jenis ini cenderung tumbuh lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kanker Sekunder.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis kanker paru, yang merupakan penyebaran sel kanker dari organ tubuh yang lain, termasuk kanker payudara dan kanker usus. Cara pengobatan kanker sangat bergantung dari asal mula sel kanker berkembang. Jika misalnya sel kanker berkembang dari sel payudara yang kemudian menyebar ke paru-paru, walaupun kemudian ditemukan dan berkembang di paru-paru, itu bukan sel kanker paru, tetapi sel kanker payudara, yang hanya akan merespon obat-obatan untuk kanker payudara. Demikian pula jika sel kanker bermula dari sel-sel usus yang bermutasi menjadi ganas dan menyebar ke paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kasusku, tampaknya Biopsy (pengambilan sampel jaringan) menjadi syarat mutlak untuk mengetahui jenis kanker yang sedang berkembang. Bila nanti ditemukan adanya kanker di paruku, perjalanan akan masih sangat panjang, karena harus ada evaluasi ke seluruh tubuh, untuk menentukan apakah kanker yang ditemukan berasal dari sel-sel paru atau kanker yang menyebar dari tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cancerhelp.org.uk/help/default.asp?page=2965"&gt;(artikel disadur dari www.cancerhelp.org.uk)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suaradokter.com/2009/06/kanker-paru/"&gt;&lt;/a&gt;Tentang kanker paru lebih lengkap :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suaradokter.com/2009/06/kanker-paru/"&gt;Ditulis oleh dr Octo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://charmedkath.blogspot.com/2009/02/mens-killer-lung-cancer.html"&gt;Ditulis oleh dr Kathryn&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-8313190802678325182?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/8313190802678325182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/statusku-sebagai-suspect-lung-cancer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/8313190802678325182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/8313190802678325182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/statusku-sebagai-suspect-lung-cancer.html' title='Mengenal jenis kanker paru'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SfGS8Cyo3bI/AAAAAAAAAXk/E3L13jYf2IE/s72-c/TTB6a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-589043938556826844</id><published>2009-04-17T11:07:00.012+07:00</published><updated>2009-04-24T15:24:24.445+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Memilih prosedur biopsy</title><content type='html'>April 2007 Nyeri di dada kiriku terasa semakin menyengat. Mungkin aku mulai kebal terhadap obat penahan nyeri yang selama ini kuminum. Ketika ada kesempatan, aku kembali ke dokter Andi Nurjihad, spesialis paru yang pernah merawatku dulu, juga yang selama ini memberi obat penawar nyeri. Kukeluhkan tentang meningkatnya rasa nyeri di dadaku. Dokter membenarkan bahwa meningkatnya rasa nyeri bisa saja karena aku mulai kebal terhadap "Tramal" (Tramadol hydrochloride), tetapi lebih penting mencari penyebab nyeri daripada mencari obat pengganti. Ketika kuceritakan tentang tidak ditemukannya sel ganas pada pemeriksaan TBLB, dokter memaparkan beberapa fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebelum ditemukannya jaringan liar di paru kiriku, aku adalah perokok. Menurut statistik 80% dari penderita kanker paru, ada hubungannya dengan rokok. Secara umum, 15% dari perokok punya resiko untuk mengidap kanker paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari hasil Rontgent maupun CT Scan, terlihat adanya jaringan liar yang tumbuh di paru kiriku. Walaupun belum diketahui jenisnya, tetapi jelas jaringan itulah yang menimbulkan rasa nyeri, karena tidak ditemukan hal lain yang mungkin dapat menyebabkan rasa nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Walaupun masih dalam penyelidikan, ada indikasi bahwa kanker ada hubungannya dengan faktor keturunan. Sedangkan Ibuku almarhum juga menderita kanker paru Adenocarsinoma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan keturunan ini, aku dapat menerima penjelasan bahwa kanker bisa menurun secara genetis. Sel kanker adalah sel tubuh kita juga yang mengalami mutasi sehingga jadi tak terkendali. Mungkin pada orang-orang tertentu jika terpapar oleh karsinogen sel-sel tubuhnya mudah bermutasi, sedangkan pada orang lain tidak. Sifat sel tubuh yang mudah bermutasi inilah yang mungkin merupakan sifat yang diturunkan dari orang tua kita, sebagaimana warna kulit, bentuk tubuh dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kembali pada kasusku, jika dengan TBLB tidak ditemukan sel ganas, maka tidak seharusnya aku berhenti berusaha cari tahu tentang apa yang sedang terjadi di paruku. Aku bergidik, karena biopsy yang ditawarkan tinggal dengan cara&lt;br /&gt;1. TTLB (Trans Thoracal Lung Biopsy) atau&lt;br /&gt;2. operasi (biopsy terbuka).&lt;br /&gt;Keduanya sama sekali tidak kusenangi. TTLB atau Fine needle aspiration biopsy dilakukan dengan cara menancapkan jarum di dada hingga mencapai jaringan yang dicurigai. Sedangkan biopsy terbuka dilakukan dalam suatu operasi melalui sayatan di dada. Sejumlah jaringan diambil untuk dipelajari ahli Pathology yang dihadirkan diruang operasi. Jika hasilnya ditemukan sel ganas, operasi dilanjutkan dengan pengangkatan. Aku memilih cara TTLB yang sepertinya lebih sederhana. Setelah kami berembug memilih waktu yang tepat untuk pelaksanaannya, aku pulang dengan membawa obat penahan nyeri dengan dosis lebih tinggi. Malam itu tidurku pulas sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-589043938556826844?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/589043938556826844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/trans-thoracal-lung-biopsy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/589043938556826844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/589043938556826844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/trans-thoracal-lung-biopsy.html' title='Memilih prosedur biopsy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-3179476772206821960</id><published>2009-04-13T14:37:00.019+07:00</published><updated>2009-04-25T20:53:53.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Trans Bronchial Lung Biopsy  vs Trans Thoracal Lung Biopsy</title><content type='html'>Tidak ditemukannya sel kanker paru pada proses TBLB (Trans Bronchial Lung Biopsy) di &lt;br /&gt;bulan Januari 2007 membuatku terpuruk dalam kebimbangan lagi. Di awal tahun 2006 dulu &lt;br /&gt;aku pernah dihadapkan pada masalah yang sama. Waktu itu karena tes Mantoux menunjukkan reaksi positif maka aku ditetapkan sebagai penderita TBC. Sedangkan hasil CT Scan memperlihatkan adanya jaringan abnormal berdiameter kurang dari 3 cm yang ada di paru kiri. Kesalahan diagnosa seperti itu bisa terjadi, karena yang tampak seperti jaringan abnormal pada CT scan bisa saja merupakan jaringan parut akibat penyakit paru kronis seperti TBC, Bronchitis, dan penyakit infeksi paru lainnya. Pemeriksaanpun berlanjut berlarut-larut hingga membuatku semakin bingung. Walau cytologi report menyatakan tidak ditemukan sel ganas, aku masih ragu akan hasil TBLB yang lalu. TBLB dikenal luas sebagai "the Golden Standard" dalam menegakkan diagnosis penyakit paru, tetapi itu sebatas jika kelainan yang ada dalam paru bisa di jangkau dan diambil sampelnya untuk di pelajari lebih lanjut. Sedangkan pada kasusku, jaringan yang dicurigai tidak terjangkau oleh Bronchoscope sehingga biopsy dilakukan dengan cara bilasan, yang menurutku punya beberapa kelemahan &lt;a href="http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/petanda-tumor-tumor-market.html"&gt;(posting tertanggal 8 April dibawah judul Petanda Tumor)&lt;/a&gt;. Untuk sementara sejak Januari 2007 aku hanya perlu kontrol tiap bulan. Jaringan liar yang ada di paru kiriku di pantau perkembangannya melalui rontgent. Aku mulai berpikir untuk mencoba cara lain yang sama sekali tak kusukai, Trans Thoracal Lung Biopsy (TTLB). Pengambilan sampel jaringan melalui dada, dengan cara menusukkan jarum hingga mencapai jaringan yang dicurigai, di sedot untuk dipelajari di laboratorium. Karena biopsy ini menggunakan jarum, maka bisa juga disebut Fine Needle Aspiration Biopsy.  Prosedur TBLB dan TTLB masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. TBLB efektif jika jaringan kanker berada ditempat yang dapat dijangkau bronchoscope. Karena saluran nafas semakin jauh kedalam semakin kecil, maka pada suatu ketika bronchoscope tidak bisa masuk lebih dalam lagi. Tetapi TBLB mempunyai kelebihan dalam hal mendeteksi adanya kanker atau penyebarannya pada saluran nafas yang dapat dilalui bronchoscope. Bisa saja terjadi,  kanker pada tingkat awal, gambarnya tidak tertangkap oleh rontgent, tetapi dapat dilihat dengan bronchoscope melalui kamera yang terpasang diujungnya. TTLB mempunyai kelebihan dapat menjangkau jaringan kanker dimanapun berada, karena dilakukan dengan cara menusukkan jarum langsung ke jaringan yang mencurigakan. Dengan panduan CT scan, jarum bisa diarahkan menuju jaringan abnormal. Kelemahannya adalah jika jaringan kanker berada pada tahap dini, berukuran kurang dari 1cm, maka ada kemungkinan jarum meleset. Tidak seperti pada TBLB yang dapat melihat langsung kedalam paru-paru melalui kamera, TTLB mengandalkan image CT Scan yang perlu keahlian khusus untuk mengoperasikannya. Kelemahan lain yang walaupun sangat jarang terjadi adalah kemungkinan terjadinya pneumothorax, masuknya udara atau cairan tubuh kedalam lapisan Pleura sehingga membuat pasien susah bernafas karena paru-paru terdesak. Penggunaan jarum juga meninggalkan luka yang walapun sangat kecil bisa berakibat pendarahan atau bahkan infeksi. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa sel kanker mungkin dapat menyebar melalui luka yang ditinggalkan oleh bekas tusukan jarum. Tentang kemungkinan terakhir ini pernah kubahas dengan dokter ahli paru yang lain. Beliau tidak menyangkal pendapat itu, tetapi untuk menyebar, sel kanker akan lebih mudah melalui peredaran darah dimana tersedia lebih banyak makanan untuknya dibanding jika menyebar melalui bekas luka. Apalagi luka sekecil apapun, akan segera tertutup oleh darah yang mengering, sehingga memutus jalur makanan bagi sel kanker yang mungkin terbawa oleh jarum dan secara tak sengaja tertinggal di sepanjang luka yang ditinggalkannya. Tampaknya tanpa menyangkal, dengan penjelasannya itu pak Dokter ingin mengatakan bahwa kemungkinan itu hampir mustahil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-3179476772206821960?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/3179476772206821960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/trans-thoracal-biopsy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/3179476772206821960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/3179476772206821960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/trans-thoracal-biopsy.html' title='Trans Bronchial Lung Biopsy  vs Trans Thoracal Lung Biopsy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-1124602015685920975</id><published>2009-04-08T13:18:00.016+07:00</published><updated>2009-04-18T08:41:34.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Positron Emission Tomography Scan</title><content type='html'>Termangu aku memikirkan penyakitku. Hasil bronchoscopy yang menyatakan tidak ditemukannya sel ganas membuatku senang &lt;a href="http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/cytologi-report.html"&gt;(posting tertanggal 31 Maret dibawah judul Cytologi report)&lt;/a&gt;, tetapi juga bingung. Sementara dari test CEA (Carcinoembryonic Antigen) yang pernah kujalani jelas adanya jejak kanker, kenapa pada pelacakan dengan alat yang dapat menjangkau langsung ke jaringan yang dicurigai sebagai kanker paru justru jejak itu tidak ditemukan.CEA digunakan sebagai petanda tumor, karena umumnya seseorang yang mengidap tumor kadar CEA nya meningkat. Tetapi kadar CEA yang tinggi tidak selalu karena seseorang mengidap tumor atau kanker. Beberapa penyakit lain dapat juga mengakibatkan naiknya kadar CEA. Bahkan seorang perokok (aku dulu juga perokok) kadar CEA nya cenderung lebih tinggi dibanding bukan perokok. Walaupun belum memenuhi kriteria sebagai petanda tumor (tumor marker) yang ideal, CEA masih diterapkan karena biayanya yang relatif murah dan prosedurnya mudah. Sedangkan Bronchoscopy yang pernah kujalani beberapa hari yang lalu terpaksa dilakukan dengan teknik bilasan, karena jaringan yang dicurigai sebagai kanker paru tidak dapat dijangkau oleh bronchoscope. Dalam metoda bilasan ini, sejumlah cairan disemprotkan kearah jaringan yang dicurigai, kemudian ditampung dan dipelajari di laboratorium. Cara ini punya beberapa kelemahan. Jika cairan yang disemprotkan ternyata tidak mengarah pada jaringan kanker, karena percabangan saluran nafas yang begitu banyak, maka hasilnyapun negatif. Seandainya arahnya benar tetapi ternyata tidak terjangkau karena letaknya yang terlalu dalam, atau jika  walaupun terjangkau tetapi tidak ada sel kanker yang kebetulan larut terbawa oleh cairan saline (air garam) yang disemprotkan maka hasilnyapun negatif. Sebetulnya ada alat yang lebih canggih untuk mendeteksi sel kanker, merupakan pengembangan kedokteran nuklir disebut PET Scan(Positron Emission Tomography). Berbeda dengan alat pencitraan terdahulu seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau CT Scan (Computed Tomography) yang dipakai memeriksa kelainan bentuk organ, PET Scan dipakai untuk pencitraan kelainan fungsi metabolisme, dalam hal ini adalah metabolisme sel-sel kanker. Sel kanker mengkonsumsi gula (glucosa) lebih banyak dari pada sel normal, maka untuk melacak adanya sel kanker adalah dengan cara mendeteksi dimana terdapat metabolisme (proses makan) gula secara berlebihan. Agar dapat dimonitor dari luar tubuh, gula diberi muatan radioisotop (zat yang dapat memancarkan sinyal radioaktif) kemudian diinjeksikan kepada pasien. Dengan kamera khusus yang dirancang untuk dapat menangkap sinyal radioaktif, tempat dimana terdapat konsentrasi gula yang tinggi dapat dilacak, berupa bercak-bercak hitam, tempat sel-sel kanker berada. PET Scan dapat melacak dimanapun sel kanker berada. Sayangnya pemakaian alat ini biayanya sangat tinggi, dan aku dengar baru masuk ke Indonesia pada akhir tahun 2008 di salah satu Rumah Sakit di kawasan Pluit. Sedangkan ceritaku ini adalah kilas balik saat penelusuran penyakitku pada tahun 2005 hingga 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-1124602015685920975?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/1124602015685920975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/petanda-tumor-tumor-market.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/1124602015685920975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/1124602015685920975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/petanda-tumor-tumor-market.html' title='Positron Emission Tomography Scan'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-5149204799521884119</id><published>2009-04-06T16:56:00.011+07:00</published><updated>2009-04-08T14:17:59.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Pengobatan alternatif</title><content type='html'>Banyak teman menyarankan agar aku mencoba pengobatan alternatif, tetapi sejauh ini aku belum tertarik. Disatu sisi aku meragukan model pengobatan alternatif yang hanya berlandaskan pada komersialisasi doa, disisi lain asuransi tidak akan mau menerima claim pengobatan alernatif. &lt;br /&gt;Logikanya, bila pengobatan alternatif itu memang manjur, mestinya sudah dijadikan prosedur standard untuk mengobati para penderita kanker. Alkisah, salah seorang tetanggaku, Ibunya mengidap kanker rahim sehingga seluruh rahim beserta ovariumnya harus diangkat. Operasi pengangkatan rahimnya sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu, tetapi saat kontrol rutin tiba-tiba saja terdeteksi adanya penyebaran pada paru-parunya. Saat ditawarkan untuk dilakukan chemotherapy beliau menolak, karena merasa tidak akan tahan terhadap dampak buruknya. Setelah operasi pengangkatan rahimnya dulu, beliau sudah menjalani chemotherapy dan radiotherapy. Beliau lebih memilih pengobatan alternatif pada seorang "pintar" di daerah Soreang - Bandung. Alhamdulillah, setelah beberapa bulan berobat, saat kontrol rutin ke Rumah sakit, kanker yang semula terdeteksi ada di paru-parunya menghilang. &lt;br /&gt;Berita gembira ini tentu saja menarik perhatianku. Segera aku minta alamat tempatnya berobat. Rupanya Pak Cecep (atau Pak Asep, aku lupa namanya), di Soreang sudah amat terkenal. Ketika aku tiba di SMP Muhamadiyah Soreang yang jadi ancer-ancer rumahnya, dengan sekali bertanya pada seorang kusir delman yang kebetulan lewat, langsung ditunjukkan letak rumahnya. Setelah mendaftar dan menunggu agak lama, (pasiennya cukup banyak) seorang asistennya menyuruhku masuk kamar, dan seluruh badanku dipijitnya. Selesai dipijit baru Pak Asep masuk. Kembali aku dipijit mulai dari kepala hingga ke kaki. Rupanya sambil memijit Pak Asep juga mendeteksi penyakitku, terutama waktu memijit telapak kaki. Ada beberapa penyakit yang dia sebutkan, antara lain gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, prostat (entah gangguan prostat seperti apa) tetapi kanker sama sekali tidak disinggungnya. Setelah berpakaian kembali, aku diajak ke ruang tamu untuk merencanakan pengobatanku. Pengobatan ala Pak Asep ini dilakukan dengan cara ditotok dan diberi jamu, yang harus kuminum tiap hari selama pengobatan berlangsung. Akupun diminta untuk berpantang makan durian, nangka, jeroan, dan sedapat mungkin menghindari makanan berlemak dan berminyak. Untuk kasusku, aku harus diterapi sebanyak 12 kali pertemuan tiap seminggu sekali, dan selama itu pula aku harus minum jamu yang diberikannya, berupa cairan hitam kehijauan pekat dengan bau menyengat. Pantas orang-orang pulang sambil membawa beberapa jeriken plastik berisi jamu. Rupanya itu jatah jamu selama satu minggu yang harus mereka minum tiap hari. Di rumah Pak Asep tersedia bilik-bilik kecil yang dapat disewa bagi pasien yang rumahnya terlalu jauh. Sedangkan Ibu tetanggaku biasanya berangkat ke Soreang pada Jumat sore, menginap semalam di losmen dekat situ, agar keesokan paginya bisa antri lebih awal. Tarif untuk seluruh pengobatan yang akan kujalani ditetapkan 10 juta rupiah, boleh diangsur dua kali. Sayang, kondisi keuanganku tidak memungkinkan, sehingga kuurungkan niatku untuk melakukan pengobatan alternatif. Sementara itu, Ibu tetanggaku itu hingga kini masih segar bugar. Subhanallah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-5149204799521884119?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/5149204799521884119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/pengobatan-alternatif.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/5149204799521884119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/5149204799521884119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/04/pengobatan-alternatif.html' title='Pengobatan alternatif'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-4075727670210775470</id><published>2009-03-31T10:19:00.012+07:00</published><updated>2009-05-13T17:09:58.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Cytology</title><content type='html'>Specimen : Bilasan bronkus, &lt;br /&gt;Makroskopik : Cairan bening kurang lebih 10cc dibuat 3 sediaan apus, &lt;br /&gt;Mikroskopik : Sediaan-sediaan apus bilasan bronkus terdiri atas banyak sel-sel epitel silindrik, banyak sel makrofag/sel-sel debu dan sedikit lekosit. &lt;br /&gt;Kesimpulan : Tidak tampak sel ganas, jamur tidak ditemukan.&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Demikian citology report yang dibacakan dr Menaldi padaku. Aku senang, setidaknya bukan kanker yang bersarang di paruku, tetapi juga sedih karena penyakitku belum juga dapat dikenali, sementara itu dada kiriku makin terasa nyeri. Proses bronchoscopy yang kujalani beberapa hari yang lalu berjalan lancar. Hal yang menyulitkan adalah letak jaringan liar yang terlalu tinggi di puncak paru sebelah kiri, sehingga pengambilan sampel jaringan dilakukan dengan cara bilasan. Prosedur bilasan pada bronchoscopy biasa dilakukan jika alat bronchoscope tidak dapat menjangkau letak jaringan yang dicurigai. Hal ini bisa terjadi karena saluran nafas (Bronchus) yang semula cukup besar untuk dilalui alat bronchoscope, semakin dalam semakin banyak bercabang dan semakin kecil, sehingga bronchoscope tidak dapat lagi melaluinya. Seorang dokter spesialis paru yang biasa melakukan tindakan bronchoscopy harus hafal benar cabang-cabang saluran nafas yang ada dalam paru. Meskipun demikian, dalam tugasnya dokter dapat juga dibantu dengan alat Fluoroscopy yang dapat memetakan seluruh permukaan paru, sekaligus memantau setiap gerakan bronchoscope yang sedang dioperasikan di dalam paru. Jika jaringan yang dicurigai dapat dijangkau oleh bronchoscope, maka pengambilan sampel jaringan dilakukan dengan cara menyikat (brushing) jaringan liar. Sikat kecil dimasukkan melalui bronchoscope kemudian digesekkan ke jaringan liar sehingga sel-sel jaringan menempel pada sikat, yang selanjutnya akan dipelajari di laboratorium PA (Pathology Anatomy). Selain sikat terkadang juga digunakan forceps (penjepit) untuk mengambil jaringan. Jika jaringan liar tidak terjangkau oleh bronchoscope, maka dilakukan cara pembilasan. Pada prosedur bilasan ini melalui bronchoscope disemprotkan cairan air garam yang biasa disebut saline, kemudian cairan ditampung. Sel-sel yang terlepas dan larut dalam cairan dipelajari di laboratorium PA (Pathology Anatomy) untuk dikenali jenisnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-4075727670210775470?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/4075727670210775470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/cytologi-report.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4075727670210775470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4075727670210775470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/cytologi-report.html' title='Cytology'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-8703364263798336996</id><published>2009-03-27T15:06:00.018+07:00</published><updated>2009-05-07T12:00:24.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Trans Bronchial Lung Biopsy</title><content type='html'>Sementara bronchoscopy dijadwal ulang, tiba waktunya aku harus kontrol ke dokter paru untuk pemeriksaan TB. Kepada dokter kuceritakan semua pemeriksaan yang kujalani, termasuk bronchoscopy yang gagal dilakukan. Dokter menawarkan test CEA (Carcinoembryonic Antigen), pemeriksaan darah untuk melacak adanya sel kanker. Walaupun akurasinya tak begitu tinggi, tetapi sebagai tahap awal kupikir bolehlah, lagipula prosedurnyapun sederhana. Ternyata hasil test CEA menunjukkan angka yang cukup tinggi, 9,61 ng/ml dari nilai rujukan yang hanya 0,00 hingga 3,40 ng/ml. Untuk sementara, hingga pemeriksaan lanjutan dilakukan, obat TB dihentikan. Hatiku mulai kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan bahwa aku mengidap kanker paru. Saat itu menjelang akhir tahun 2006, sehingga pemeriksaan lanjutan terpaksa tertunda oleh banyaknya liburan di akhir tahun. Dada sebelah kiriku semakin terasa nyeri sehingga aku sulit tidur. Oleh dokter aku diberi obat penghilang nyeri yang sekilas resepnya antara lain terbaca seperti Tramadol atau entah apalah itu, yang jelas tidurku jadi terasa nyenyak. Akhirnya pada tanggal 18 Januari 2007 aku kembali ke RS Mitra International Jatinegara untuk menjalani proses bronchoscopy, dan bila perlu dilanjutkan dengan Trans Bronchial Lung Biopsy (TBLB). Berbeda dengan bronchoscopy yang lebih bersifat evaluasi, TBLB adalah proses pengambilan jaringan (biopsy) melalui saluran nafas (bronchi). Dari &lt;a href="http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html"&gt;pengalaman bulan lalu&lt;/a&gt; saat akan dilakukan bronchoscopy yang pertama, aku memilih menginap semalam di Rumah sakit, daripada harus terburu-buru berangkat habis subuh dari rumah, sampai di RS masih harus melalui proses administrasi, dan beberapa persiapan lainnya. Kali ini aku berangkat sendiri ke Rumah sakit menjelang maghrib, karena anak-anak belum bisa ditinggal sendiri di rumah. Malam itu aku gelisah di kamar perawatan. Tingginya nilai CEA membuat hatiku gundah. Dalam suasana hati tak menentu,sungguh tak nyaman berada ditempat asing dengan bau obat-obatan merebak keseluruh ruangan. Aku minta ijin suster jaga untuk pergi ke musholla yang terletak di lantai dasar bagian belakang RS. Selesai sholat kusempatkan memeriksa mobil di tempat parkir, tapi kemudian kuputuskan untuk tinggal sejenak di mobil. Canda penyiar radio di sela-sela lagu yang diputarnya membuatku sedikit terhibur. Ketika kembali ke ruang rawat, sekilas kuperhatikan suster jaga sudah berganti orang. Seorang perawat bergegas menghampiri tempat tidurku untuk melakukan pemeriksaan rutin sambil bertanya dari mana saja aku tadi pergi. Rupanya aku sudah terlalu lama meninggalkan kamar, dan mereka mencariku saat pergantian shift. Walau obat analgesic pemberian dokter terdahulu sudah kuminum, namun aku tak bisa segera tertidur. Ketika akhirnya terlelappun, beberapa kali aku terbangun oleh perasaan aneh berada di tempat asing, atau oleh suara bel pasien yang butuh bantuan perawat. Aku berharap agar pagi segera tiba, dan penyakitku segera bisa dikenali. Aku sedikit malu waktu tempat tidurku didorong keluar kamar sementara aku terkapar di atasnya. Walau aku masih sanggup berjalan (bahkan berlari sekalipun) tetapi perawat berkeras agar aku tetap tiduran sambil didorong melalui selasar panjang menuju kamar operasi. Sepagi itu di kamar operasi dokter sudah lengkap menungguku. Rupanya bukan hanya aku yang harus berangkat dini hari ke tempat kerja. Prosespun berulang. Hanya kali ini sambil mempersiapkan diriku dokter lebih banyak ngobrol tentang hal lain, karena peralatan yang dipakai masih peralatan yang dulu juga, dan sudah diperkenalkan padaku. Sesaat setelah dokter anestesi memberi tahu kalau dia akan memasukkan obat bius, akupun terlelap bahkan tanpa mimpi sekilaspun. Beberapa orang bercerita bahwa mereka bermimpi saat dibius. Aku tersadar kedinginan di ruang pemulihan sendirian. Kepalaku terasa berat, rasa kantuk yang bergelayut erat di mataku membuatku sesekali tertidur kembali. Tak lama kemudian seorang perawat menengokku, memeriksa tensi dan menanyakan keluhanku. Setelah yakin aku baik-baik saja dan tidak ada komplikasi apapun, aku kembali didorong ke ruang rawat. Setelah benar-benar pulih, selesai makan siang akupun pulang. Seminggu kemudian hasil TBLB baru bisa dilihat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-8703364263798336996?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/8703364263798336996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/carcinoembryonic-antigen.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/8703364263798336996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/8703364263798336996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/carcinoembryonic-antigen.html' title='Trans Bronchial Lung Biopsy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-5301983231709768969</id><published>2009-03-16T18:46:00.036+07:00</published><updated>2009-05-15T16:16:14.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Bronchoscopy &amp; Fluoroscopy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Scnr2jrrGZI/AAAAAAAAATI/OoCp2GNk3Z0/s1600-h/Fluoroscope.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Scnr2jrrGZI/AAAAAAAAATI/OoCp2GNk3Z0/s200/Fluoroscope.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317040157611465106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ruang praktek dr Menaldi di RS Mitra International Jatinegara cukup nyaman bagiku. Berbeda dengan beberapa rumah sakit yang kukunjungi sebelumnya, ruang praktek beliau berukuran cukup luas. Selain ruang tunggu yang terletak didepan ruang praktek, sebuah pintu lain menghubungkan ruang praktek dengan ruang tamu pribadi. Di ruang praktek selain meja kerja berukuran besar, rak setinggi plafon dengan berbagai asesori menghias dinding. Perlengkapan ruang periksa bersekat tirai putih terbilang standar, dengan meja periksa setinggi pinggang, timbangan sekaligus pengukur tinggi badan dan pengukur tensi. Pemeriksaan diawali dengan memeriksa tekanan darah, yang ternyata cukup tingi. Tekanan darahku yang agak tinggi memang sudah terdeteksi sejak pemeriksaan awal dulu, tetapi tidak begitu kuhiraukan. Akupun dirujuk ke spesialis jantung untuk menormalkan dulu tekanan darahku, karena bronchoscopy tidak dapat dilakukan jika tekanan darah terlalu tinggi. Sambil menunggu jadwal tindakan, aku diberi norvask untuk menurunkan tekanan darah. Tiga hari berlalu, akupun kembali ke RS untuk dilakukan bronchoscopy. Itulah pertama kali dalam hidupku aku masuk ruang operasi. Karena aku masih bisa beraktifitas seperti biasa, akupun melenggang masuk, walau suster menyediakan kursi roda untukku. Berbagai peralatan yang kulihat disana, membuatku kecut. Degup jantungku bertambah kencang. Aku dipersilahkan naik ke meja operasi berupa lempengan stainless steel persegi empat panjang dengan berbagai alat penyesuai ketinggian, kemiringan dan entah apa lagi. Ruang ber AC yang sangat dingin menurut ukuranku, ditambah meja logam membuatku kadang menggigil kedinginan (sebenarnya plus ketakutan). Sambil mempersiapkanku dokter anestesi memperkenalkan diri, dr Sany (mirip judul lagunya BCL yang sedang top saat itu). Paramedis yang bertugas disitu dengan cekatan memasang jarum infus, memeriksa tensi, test alergi obat, dan test pembekuan darah. Ah kenapa harus ada test pembekuan darah? akankah tindakan yang dilakukan nanti menyebabkan pendarahan?. Hatiku semakin kecut. Karena persiapan tindakan memakan waktu cukup lama, dr Menaldi menjelaskan berbagai peralatan yang ada disana. Meja operasi bersebelahan dengan alat mirip rontgent yang lensanya dipasang tepat diatas dadaku, namanya Fluoroscope, alat berbasis rotgent untuk menuntun dokter dalam melakukan tindakan. Fluoroscope dilengkapi monitor monochrome, dimana dokter dapat memantau bagian dalam tubuh kita. Dengan memanfaatkan kamera rontgent yang dipancarkan terus menerus dan tayangannya dapat dilihat langsung (real time), maka dokter dapat memantau berbagai tindakan yang dilakukannya. Disisi lain terpajang berbagai peralatan elektronik dengan dua monitor, yang merupakan bagian dari alat Bronchoscopy. Monitor berwarna ini terhubung dengan lensa berukuran kecil yang terpasang diujung bronchoscope. Dengan memasukkan bronchoscope ke paru melalui mulut, dokter dapat melihat bagian dalam paru, dan bila diperlukan mengambil sampel jaringan. Rupanya pengambilan jaringan inilah yang kemungkinan akan menyebabkan pendarahan. Diujung jari tengahku terpasang alat pemantau detak jantung yang terhubung ke sebuah monitor mirip osciloscope dengan bunyi khas mengikuti ritme jantungku. Sebelum bronchoscope dimasukkan,  kerongkongan dibuat kebas terlebih dahulu, dengan menyemprotkan obat yang terasa seperti mint. Itulah saat terakhir aku sadar, karena setelah itu dokter anestesi memberi tahu bahwa dia mulai memasukkan obat bius melalui jarum infus. Dalam hitungan detik, kesadaranku memudar hingga akhirnya benar-benar tertidur. Ketika tersadar aku sudah terbaring di tempat tidur, yang diletakkan didepan kamar operasi. Tak lama kemudian dokter menghampiriku dan memberi penjelasan bahwa tindakan kali itu gagal. Tensiku naik, dan dalam tidurku aku gelisah (bergerak-gerak) sehingga menyulitkan dokter dalam memasukkan bronchoscope ke paruku. Tekanan darah yang tinggi juga dikhawatirkan akan menyebabkan pendarahan berlebihan pada proses biopsy (pengambilan jaringan). Sementara rasa nyeri di dada kiri bagian atas semakin terasa jenis penyakitku belum juga dapat dipastikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-5301983231709768969?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/5301983231709768969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/5301983231709768969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/5301983231709768969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html' title='Bronchoscopy &amp; Fluoroscopy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Scnr2jrrGZI/AAAAAAAAATI/OoCp2GNk3Z0/s72-c/Fluoroscope.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-207937580699314346</id><published>2009-03-13T11:00:00.009+07:00</published><updated>2009-03-27T17:12:36.559+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Deteksi dini</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Postingku tertanggal 12 Maret 2009 adalah cerita masa kini, ketika Medical Check up yang kulakukan saat itu menguak ingatanku pada awal ditemukannya kasusku. Juga mengingatkan pada siapapun, bahwa kanker bisa saja berkembang tanpa menimbulkan gejala yang signifikan. Dari banyak situs yang kujelajahi, kanker paru bahkan lebih banyak ditemukan secara tak sengaja sebagaimana kasusku. (posting dibawah judul "&lt;a href="http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/saya-mulai-mengenal-rokok-pada-usia.html"&gt;Kanker paru?&lt;/a&gt;" tertanggal 2 Maret 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;(Many early lung cancers are diagnosed incidentally, meaning they are found as a result of tests that are conducted for an unrelated medical condition. For example, a diagnosis may be made by imaging tests (such as a chest x-ray or chest CT scan), bronchoscopy (viewing the inside of bronchi through a flexible, lighted tube), or sputum cytology (microscopic examination of cells in coughed up phlegm) performed for other reasons in patients with heart disease, pneumonia or other lung conditions.)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;www.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;health-alliance.com&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;/cancer/lung/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;(Early detection of lung cancer is critical for improving survival of this disease because only 15% of lung cancers are found when they are localized. Since there are few or no symptoms in the early stages of the disease, the majority of lung cancers are diagnosed in the late stages of the disease. Symptoms of later-stage disease may include a persistent cough, sputum streaked with blood, chest pain, voice change, and recurrent pneumonia or bronchitis.) &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;www.lungcancer.org/reading&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-207937580699314346?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/207937580699314346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/deteksi-dini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/207937580699314346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/207937580699314346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/deteksi-dini.html' title='Deteksi dini'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-3684781924509267517</id><published>2009-03-12T12:37:00.017+07:00</published><updated>2009-04-18T08:44:20.365+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Aku pengidap kanker paru ?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari ini, Kamis 12 Maret 2009 di kantorku kembali diselenggarakan Medical Check up. Aku teringat empat tahun silam, saat diselenggarakan Medical Check up dan secara tak sengaja ditemukan adanya kabut tipis di paru kiri bagian atas, yang bahkan tanpa menimbulkan keluhan atau gejala apapun. Demikianlah kanker bekerja, secara perlahan, diam-diam hingga suatu saat ketika kita merasa ada yang tak beres, maka itu berarti kanker telah mulai merusak jaringan disekitar dia tumbuh. Sayapun menyesal kenapa tidak kuturuti saja kehendak Ibu waktu itu untuk menghentikan kebiasaan merokok. Entah bagaimana mulanya, Ibu mengidap kanker paru jenis Adenocarsinoma, sama dengan yang kuidap kini. Beliau bukan perokok, dan beliau tidak merasakannya sama sekali, hingga suatu saat nafas beliau terasa sesak. Dari hasil rontgen, tampak seluruh paru kiri telah terselubungi cairan sehingga hanya tampak putih merata diseluruh permukaan paru kiri. Hasil evaluasi lanjutan termasuk bone scanning, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) ternyata kanker telah merambah tulang belakang bahkan ke otak kecil. Pada tingkatan ini secara medis upaya yang dapat dilakukan hanya meringankan penderitaan pasien (Paliative), seperti membuat saluran di bagian sisi kiri dada, agar cairan yang mendesak paru mengalir keluar, dan pasien dapat bernafas. Obat-obatan yang diberikanpun berupa obat pereda rasa sakit.&lt;br /&gt;Dari faktor genetika saja sebetulnya aku termasuk yang berresiko mengidap kanker, lebih-lebih dengan kebiasaanku merokok, faktor resiko itupun berlipat. Dan kini terbukti.&lt;br /&gt;Aku pengidap kanker paru, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Adenocarsinoma&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; namanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-3684781924509267517?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/3684781924509267517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/aku-pengidap-kanker-paru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/3684781924509267517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/3684781924509267517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/aku-pengidap-kanker-paru.html' title='Aku pengidap kanker paru ?'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-4622280460894162072</id><published>2009-03-05T08:57:00.028+07:00</published><updated>2009-03-27T08:04:13.272+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Bronchoscopy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sb90GS10jNI/AAAAAAAAAQY/8ZMN0dacP30/s1600-h/Bronchoscope1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 361px; height: 176px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sb90GS10jNI/AAAAAAAAAQY/8ZMN0dacP30/s200/Bronchoscope1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314093736806091986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setelah mendengar penjelasan Prof Faisal, beberapa hari itu hatiku gundah. Disatu sisi aku ingin penyakitku memang benar TB, tetapi disisi lain khawatir jika ternyata bukan. Lebih-lebih jika ternyata memang kanker paru, yang menurut Prof Faisal perkembangannya bagaikan deret ukur. Hingga suatu saat ketika aku menengok putri teman yang sedang dirawat di RS Bintaro. Tanpa kuduga, ternyata dokter yang ditunjuk Prof Faisal untuk melakukan biopsy berpraktek disitu, dan RS tsb termasuk rekanan dari asuransi kesehatanku. Sekalian saja aku daftarkan diri sebagai pasiennya. Sambil menunggu giliran, aku ngobrol di kamar perawatan hingga lupa waktu. Dengan tergopoh-gopoh aku datangi ruang praktek dokter Boedi, yang rupanya sedang menungguku sebagai pasien terakhirnya. Kusampaikan surat rujukan dari Prof Faisal dan dokterpun mempelajari semua berkas pemeriksaanku terdahulu yang selalu kubawa kian kemari dibagasi. Dari caranya mempelajari berkasku (yang lamaaa banget seperti Prof Faisal) aku merasa ada sesuatu yang gak beres. Selesai mempelajari berkasku, dokter memberi penjelasan tentang berbagai kemungkinan dan resiko &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Needle Aspiration Biopsy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; jika aku setuju untuk dilakukan, antara lain &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;pneumothorax&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; (udara masuk pada lapisan pembungkus paru/pleura dan mendesak paru sehingga kita sulit bernapas). Pneumothorax sangat jarang terjadi, tetapi sebagai salah satu resiko, dokter merasa perlu untuk menyampaikannya. Bukan hanya itu, tetapi juga pendarahan, rasa sakit yang timbul, bahkan kemungkinan infeksi, walau sterilisasi alat dilakukan dengan prosedur berlapis yang amat ketat. Sebetulnya sih aku takut setengah mati dengan cara &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Needle Aspiration Biopsy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;, makanya aku setengahnya mengarahkan dokter untuk menggunakan cara lain. Dokter Boedi tampaknya tanggap akan semua pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Needle Aspiration Biopsy, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;sehingga memberi alternative lain teknik pelaksanaan biopsy. Untuk kasusku ada cara lain yaitu &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Bronchoscopy. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bronchoscope adalah alat yang digunakan untuk melihat saluran nafas, berupa pipa fleksibel, panjang sekitar 60 cm berdiameter kurang lebih 1cm yang dimasukkan keparu melalui mulut atau hidung. Diujung alat ini terdapat lampu dan kamera kecil yang terhubung dengan monitor dan lensa pada ujung lainnya untuk melihat bagian dalam paru. Pada kasus penyakit paru baik berupa infeksi atau kanker, biasanya saluran nafas merupakan bagian pertama yang terkena serangan, karena merupakan bagian yang bersinggungan langsung dengan udara luar. Melihat gejala yang ada dalam saluran nafas secara langsung akan sangat membantu dalam menegakkan diagnosa. Aku yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;"alergi" &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;terhadap jarum, lebih-lebih membayangkan dadaku ditusuk jarum hingga menembus paru-paru, memilih bronchoscopy. Dokter Boedi merujuk ke rekan sejawat yang menurutnya ahli dalam melakukan bronchoscopy, Dr Menaldi Rasmin (sekarang beliau sudah menyandang gelar Profesor) yang berpraktek di RS Mitra International Jatinegara. Kebetulan letaknya dekat kantor tempatku bekerja. Sementara itu pengobatan TB yang kujalani masih terus berlangsung, dan rasa pegal dipunggung kiri atas bertambah parah. Bahkan jika tidur miring kekiri terasa sakit. Ah jangan-jangan bukan tuberculosis ?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-4622280460894162072?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/4622280460894162072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/bronchoscopy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4622280460894162072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/4622280460894162072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/bronchoscopy.html' title='Bronchoscopy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sb90GS10jNI/AAAAAAAAAQY/8ZMN0dacP30/s72-c/Bronchoscope1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-25121853264731898</id><published>2009-03-04T09:57:00.011+07:00</published><updated>2009-03-27T08:04:13.272+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Biopsy</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"&gt;Perasaan takut akan kanker yang semula mencekamku sirna sudah. Dokter menetapkan aku mengidap TB berdasarkan test Mantoux. Tetapi pegal di punggung kiri atas tak juga hilang atau berkurang, bahkan bertambah dengan rasa sakit jika terbatuk atau bersin. Saat itu aku sudah menghentikan kebiasaanku merokok. Ada kemajuan yang aku rasakan setelah menghentikan kebiasaanku merokok. Batuk kering yang sering muncul sehingga aku selalu sedia obat batuk hitam dirumah (dan dikantor)berangsur-angsur menghilang. Nafas terasa lega dan lebih dalam. Lebih-lebih tiap Sabtu dan Minggu sehabis subuh, aku sempatkan untuk jogging. Menarik nafas sedalam-dalamnya selagi jogging tanpa terbatuk menjadi kenikmatan baru bagiku. Mungkin oleh supply oksigen yang cukup, badanku terasa segar, nafsu makan bertambah, demikian pula berat badanku. (atau mungkin juga karena kebiasaan baruku nongkrong di warung bubur ayam sehabis jogging, sehingga berat tubuhku bertambah?). Yang aku resahkan adalah rasa pegal yang tak kunjung reda walau obat sudah kuminum sesuai petunjuk dokter. Atas saran dari beberapa teman akupun mencari second opinion, dan terpilihlah RS Dharma Nugraha di Rawamangun yang konon merupakan cikal bakal rumah sakit kanker di Jakarta. Semula aku ingin konsultasi dengan dr Tjindarbumi (seperti saran teman), tetapi sayang beliau sedang keluar negeri. Karena sudah kepalang tanggung, akupun mendaftar dibagian spesialis paru. Maka bertemulah aku dengan Prof Faisal, yang ternyata adalah dosen dari dokter yang berpraktek di RS dimana aku berobat selama ini. Dari berkas pemeriksaan terdahulu yang kubawa, beliau menyarankan untuk dilakukan biopsy (yang pernah tertunda dilakukan karena administrasi yang tak beres). Hatiku kembali menciut, karena menurut beliau test Mantoux belum bisa menjelaskan dengan pasti status dari jaringan liar di paru kiriku. Menurut beliau, yang paling dapat dipercaya adalah biopsy. Aku sempat menanyakan tentang proses biopsy, karena aku pernah mendengar bahwa sel-sel kanker akan semakin beringas ketika jarum melukai jaringan kanker dan sel-sel kanker merambat melalui lubang yang ditinggalkan oleh bekas tusukan jarum. Akibatnya, jika semula jaringan kanker hanya terbentuk di satu tempat, kemudian menjadi terbentuk pula disepanjang luka bekas tusukan jarum (mungkin bentuknya jadi seperti komet). Beliau tidak menyangkal dan menghargai adanya pendapat seperti itu, tetapi jika tidak dilakukan biopsy maka kita tidak tahu bagaimana mengobatinya. Lagipula jika itu memang benar jaringan kanker, penyebaran melalui jaringan pembuluh darah jauh lebih nyaman dibanding melalui luka bekas jarum, karena di jaringan darah tersedia makanan yang berlimpah bagi sel-sel kanker. Aku dirujuk ke salah satu rekannya (yang juga bekas mahasiswanya) di RS Persahabatan untuk dilakukan biopsy. Sayangnya RS Persahabatan bukan rekanan asuransi kesehatanku, lagipula aku takut dan belum siap menghadapi kenyataan hasil biopsy, maka surat rujukan Prof Faisalpun hanya tersimpan rapi di laci dashboard.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-25121853264731898?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/25121853264731898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/another-opinion.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/25121853264731898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/25121853264731898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/another-opinion.html' title='Biopsy'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-2603356080251668154</id><published>2009-03-03T11:25:00.010+07:00</published><updated>2009-03-27T08:03:56.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Tuberculosis ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbYbzWSFiLI/AAAAAAAAAMc/VN4OFVPJrZQ/s1600-h/CT+Scan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 289px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbYbzWSFiLI/AAAAAAAAAMc/VN4OFVPJrZQ/s200/CT+Scan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311463379498797234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Jika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; men&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;dirika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;n &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;ia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;gnosa itu mudah, tentu tidak akan ada Fakultas Kedokteran. Penelusuran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;p&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;enyakitku diawali dengan pemeriksaan jantung lengkap. Dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;CT Scan (Computed Tomography Scan) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;pemeriksa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;an b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;erbasis rontgen yang menghasilkan beberapa gambar potongan melintang organ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; yang diperiksa. Dari hasil CT Scan ini ditemukan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;adanya jaringan berdiameter 2,8 x 3,2 cm yang oleh bagian radiologi diberi komentar harus dilakukan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lebih lanjut berupa pengambilan jaringan paru dengan cara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Needle aspiration biopsy (Dengan dipandu CT Scan, jarum ditusukkan hingga mencapai jaringan yang dicurigai, kemudian diambil sedikit sampel untuk dipelajari di laboratorium pathology). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Karena pemeriksaan yang beruntun itu,  aku harus menginap di Rumah sakit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menjelang tidur seorang suster melakukan test &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Mantoux&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; (Test untuk mengetahui apakah seseorang mengidap TBC) dengan cara menyuntikkan sedikit antigen dibawah kulit. Esok harinya dokter yang akan melakukan biopsy datang dan menanyakan tentang persiapan pelaksanaannya pada suster jaga. Tetapi apa lacur, entah dimana letak kesalahannya, ternyata saya tidak terdaftar pada ruang tindakan pada hari itu. Padahal jadwal dokter amat ketat, sehingga harus ditunda dua hari lagi. Kesal dengan sistim administrasi Rumah sakit, saya memutuskan untuk pulang saja, daripada harus menginap di Rumah sakit dua malam lagi. Sementara itu test Mantoux yang diberikan mulai menimbulkan rasa gatal dan bercak merah bundar yang semakin melebar. Selang dua hari kemudian kembali saya datang ke Rumah sakit untuk menjadwal ulang pemeriksaan. Ternyata hari itu saya dapat dokter pengganti. Setelah membaca status dan medical record saya, dokter menanyakan tentang test Mantoux yang bahkan sudah saya lupakan. Dari reaksi tubuh yang masih dapat dilihat berupa bulatan merah yang mulai memudar berdiameter sekitar 10 cm, disimpulkan bahwa saya mengidap TB (Tuberculosis), penyakit yang cukup menakutkan, tetapi membuat saya lega, dibanding jika ternyata saya mengidap kanker paru. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sayapun mulai ditherapy sebagaimana orang sakit TBC. Ada beberapa obat yang harus kuminum secara rutin selama tiga bulan berturut-turut tanpa boleh terlewatkan, serta kontrol rutin kedokter setiap bulan sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-2603356080251668154?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/2603356080251668154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/mencari-cari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/2603356080251668154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/2603356080251668154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/mencari-cari.html' title='Tuberculosis ?'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbYbzWSFiLI/AAAAAAAAAMc/VN4OFVPJrZQ/s72-c/CT+Scan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6541949433766783178</id><published>2009-03-03T10:57:00.013+07:00</published><updated>2009-03-27T08:02:21.808+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Tahap pencarian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/ScnsEVnA40I/AAAAAAAAATQ/pSGXimvq47Y/s1600-h/Stetoscope.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 356px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/ScnsEVnA40I/AAAAAAAAATQ/pSGXimvq47Y/s200/Stetoscope.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317040394351993666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Walaupun dari has&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;l rontge&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;n t&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;erlihat jelas bahwa ada kelainan pada paru kiriku, aku tak peduli. Terlebih saat dokter &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;ng memeriksaku menyatakan terlalu dini untuk menyangka kelainan itu adalah kanker. Akupun menjal&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;ani hidupku seperti biasa, merokok sambil menghirup kopi kegemaranku menjadi kebiasaanku setiap pagi, walaupun dokter yang memeriksaku dulu menyarankan untuk meninggalkan kebiasaanku merokok. Dalam sehari aku bisa menghabiskan satu bungkus rokok berisi 12 batang. Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk pulang mudik pada saat lebaran. Dipenghujung tahun 2006 kamipun melakukannya. Sejak sebelum berangkat aku merasa pegal pada punggung kiri bagian atas, hingga saat sampai dikota tujuan aku minta tolong kakak mencarikan tukang pijit. Tetapi walau sudah dipijit bahkan dikerok, rasa pegal pada punggung kiriku tidak juga hilang. "Ah sudahlah, barangkali karena nyetir dalam waktu lama" pikirku dan rasa pegal itupun terbawa kembali ke Jakarta. Karena lama tak kunjung sembuh, akupun teringat tentang kelainan yang ada di paru kiriku. Dengan membawa semua berkas-berkas pemeriksaan, akhirnya kuputuskan untuk mengkonsultasikannya pada dokter spesialis paru. Dokter inipun sangat membesarkan hati, dan menjelaskan dengan sangat rinci mulai dari gejala awal suatu penyakit hingga berbagai cara yang dibutuhkan untuk dapat mendirikan suatu diagnosa. Maka kamipun membuat perjanjian untuk memulai serangkaian pemeriksaan. Aku tak menyangka bahwa pencarian ini akan memakan waktu begitu panjang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6541949433766783178?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6541949433766783178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/tahap-pencarian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6541949433766783178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6541949433766783178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/tahap-pencarian.html' title='Tahap pencarian'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/ScnsEVnA40I/AAAAAAAAATQ/pSGXimvq47Y/s72-c/Stetoscope.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-6864994386642922117</id><published>2009-03-02T16:26:00.008+07:00</published><updated>2009-05-05T08:45:21.479+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker paru'/><title type='text'>Kanker paru?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sa5SeeZxVNI/AAAAAAAAAJw/GHaMCFDSPqE/s1600-h/Tegesan.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 201px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sa5SeeZxVNI/AAAAAAAAAJw/GHaMCFDSPqE/s200/Tegesan.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309271694227100882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Aku mulai mengenal rokok pada usia yang relatif muda. Awalnya hanya ingin mencoba, ketika usiaku meng&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;injak 15 tahun, kemudian menjadi kebiasaan, terutama ketika duduk di bangku SMA. Hamp&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;r s&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;emua teman sebaya menghisap rokok, dan dari mereka pulalah kudapatkan jatahku, karena waktu itu orang tua melarang keras. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga suatu saat pada pemeriksaan kesehata&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;n (general check up) tahun 2005 yang diselenggar&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;akan oleh perusahaan dimana aku bekerja, pada paru kiri atas ditemukan kabut tipis. Saat itupun aku tercekat, karena beberapa tahun sebelumnya Ibuku meninggal karena kanker paru. Aku pernah mendengar bahwa kanker mungkin secara &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;genetis dapat menurun, walau masih dalam penyelidikan. Pada saat itu segera kubawa hasil pemeriksaan tsb ke dokter untuk mendapat penjelasan lebih lanjut. Lega rasanya karena menurut dokter yang memeriksa saat itu, terlalu dini untuk menetapkan bahwa itu adalah kanker. Terlebih lagi saat itu memang tidak ada gejala yang mencurigakan, seperti sesak nafas, rasa nyeri, atau batuk berdarah. Akupun meneruskan kebiasaan merokok karena merasa aman&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-6864994386642922117?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/6864994386642922117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/saya-mulai-mengenal-rokok-pada-usia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6864994386642922117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/6864994386642922117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/03/saya-mulai-mengenal-rokok-pada-usia.html' title='Kanker paru?'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/Sa5SeeZxVNI/AAAAAAAAAJw/GHaMCFDSPqE/s72-c/Tegesan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4772990014355425291.post-9189926497065583328</id><published>2009-02-26T10:22:00.004+07:00</published><updated>2009-06-11T16:50:43.467+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='minipost'/><title type='text'>Paruku terkena kanker</title><content type='html'>Aku penderita kanker paru jenis adenocarsinoma stadium IV. Awalnya pada general check up di kantor pada 2005 diketahui ada kabut tipis di paru kiri atas. Saat itu langsung kukonsultasikan ke dokter kantor, tetapi karena tidak ada keluhan, maka tidak ada tindak lanjut. Hal ini berlangsung hingga Oktober 2006 ketika kurasakan pegal pada dada kiri sebelah atas. Setelah bolak-balik ke RS, akhirnya melalui biopsy, pada bulan Juni 2007 diketahui bahwa aku mengidap adenocarsinoma. Maka sejak saat itu aku ditherapy dengan penyinaran sekaligus chemotherapy.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4772990014355425291-9189926497065583328?l=kankerparuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kankerparuku.blogspot.com/feeds/9189926497065583328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/02/paruku-terkena-kanker.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/9189926497065583328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4772990014355425291/posts/default/9189926497065583328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kankerparuku.blogspot.com/2009/02/paruku-terkena-kanker.html' title='Paruku terkena kanker'/><author><name>Triyono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11137298000434459714</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_zNwQrZo0Xyk/SbZZBLFuDjI/AAAAAAAAANY/0AJKEBgF17Y/S220/Me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
