Termangu aku memikirkan penyakitku. Hasil bronchoscopy yang menyatakan tidak ditemukannya sel ganas membuatku senang
(posting tertanggal 31 Maret dibawah judul Cytologi report), tetapi juga bingung. Sementara dari test CEA (Carcinoembryonic Antigen) yang pernah kujalani jelas adanya jejak kanker, kenapa pada pelacakan dengan alat yang dapat menjangkau langsung ke jaringan yang dicurigai sebagai kanker paru justru jejak itu tidak ditemukan.CEA digunakan sebagai petanda tumor, karena umumnya seseorang yang mengidap tumor kadar CEA nya meningkat. Tetapi kadar CEA yang tinggi tidak selalu karena seseorang mengidap tumor atau kanker. Beberapa penyakit lain dapat juga mengakibatkan naiknya kadar CEA. Bahkan seorang perokok (aku dulu juga perokok) kadar CEA nya cenderung lebih tinggi dibanding bukan perokok. Walaupun belum memenuhi kriteria sebagai petanda tumor (tumor marker) yang ideal, CEA masih diterapkan karena biayanya yang relatif murah dan prosedurnya mudah. Sedangkan Bronchoscopy yang pernah kujalani beberapa hari yang lalu terpaksa dilakukan dengan teknik bilasan, karena jaringan yang dicurigai sebagai kanker paru tidak dapat dijangkau oleh bronchoscope. Dalam metoda bilasan ini, sejumlah cairan disemprotkan kearah jaringan yang dicurigai, kemudian ditampung dan dipelajari di laboratorium. Cara ini punya beberapa kelemahan. Jika cairan yang disemprotkan ternyata tidak mengarah pada jaringan kanker, karena percabangan saluran nafas yang begitu banyak, maka hasilnyapun negatif. Seandainya arahnya benar tetapi ternyata tidak terjangkau karena letaknya yang terlalu dalam, atau jika walaupun terjangkau tetapi tidak ada sel kanker yang kebetulan larut terbawa oleh cairan saline (air garam) yang disemprotkan maka hasilnyapun negatif. Sebetulnya ada alat yang lebih canggih untuk mendeteksi sel kanker, merupakan pengembangan kedokteran nuklir disebut PET Scan(Positron Emission Tomography). Berbeda dengan alat pencitraan terdahulu seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau CT Scan (Computed Tomography) yang dipakai memeriksa kelainan bentuk organ, PET Scan dipakai untuk pencitraan kelainan fungsi metabolisme, dalam hal ini adalah metabolisme sel-sel kanker. Sel kanker mengkonsumsi gula (glucosa) lebih banyak dari pada sel normal, maka untuk melacak adanya sel kanker adalah dengan cara mendeteksi dimana terdapat metabolisme (proses makan) gula secara berlebihan. Agar dapat dimonitor dari luar tubuh, gula diberi muatan radioisotop (zat yang dapat memancarkan sinyal radioaktif) kemudian diinjeksikan kepada pasien. Dengan kamera khusus yang dirancang untuk dapat menangkap sinyal radioaktif, tempat dimana terdapat konsentrasi gula yang tinggi dapat dilacak, berupa bercak-bercak hitam, tempat sel-sel kanker berada. PET Scan dapat melacak dimanapun sel kanker berada. Sayangnya pemakaian alat ini biayanya sangat tinggi, dan aku dengar baru masuk ke Indonesia pada akhir tahun 2008 di salah satu Rumah Sakit di kawasan Pluit. Sedangkan ceritaku ini adalah kilas balik saat penelusuran penyakitku pada tahun 2005 hingga 2007.
2 comments:
Mas Tri, memang betul PET scan canggih, tetapi sangat mahal. di Ind layanan ini hanya ada di RS Gading Pluit (adik RS Pluit).
Bagaimana keadaannya sekarang? Saya bisa memahami kebingungan mas Tri. Memang hasil pemeriksaan tidak ada yang 100% akurat.
Sekarang dokter saya tidak menganjurkan pemeriksaan CEA.
mbak Sima,
Keadaan saya saat ini baik-baik saja, hanya perlu kontrol tiap 2 bulan sekali dan CT Scan tiap 4 bulan sekali. Semua prosedur pengobatan sudah saya jalani sejak Juli 2007 hingga Januari 2008 berupa Radiotherapy dan Chemotherapy. Kisah yang kutulis disini merupakan kilas balik pengalamanku mengidap kanker paru yang akhirnya ditemukan pada bulan Juni 2007. Senang sekali mbak Sima mau menengokku disini. Salam,
Poskan Komentar
Tuliskan pesan atau komentar anda disini